Mencari Mertua Noordin M Top

Kompas.com - 10/10/2009, 12:19 WIB

CILACAP, KOMPAS.com — Keberadaan mertua Noordin M Top, Bahrudin Latif alias Baridin, sejak penggerebekan rumahnya di Desa Pasuruhan, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah, 23 Juni 2009, hingga kini masih misteri.
     
Informasi yang dihimpun di Desa Pasuruhan, Sabtu (10/10), tak satu pun warga yang mengetahui keberadaan ayah Arina Rahma (istri Noordin) lantaran orang tersebut telah meninggalkan rumahnya tiga hari sebelum penggerebekan oleh Densus 88 Antiteror.
     
"Hingga sekarang kami tak pernah mendengar kabar di mana Pak Baridin berada," kata seorang warga, Sugi (20).
     
Bahkan, kata dia, keberadaan warga Agus Mujiyono—anak didik Baridin yang menghilang sejak penggerebekan oleh Densus 88—hingga kini juga tidak diketahui.
     
Sementara itu, warga lainnya, Rumiyati (31), mengharapkan, keluarga Baridin dapat dipulangkan ke Pasuruhan jika memang dinyatakan tidak bersalah. "Kami berharap Bu Tuti (istri Baridin) dan Arina (anak Baridin yang menikah dengan Noordin) bisa pulang ke sini, kasihan mereka. Kami tidak tahu keberadaan mereka sekarang," katanya.
     
Secara terpisah, Kepala Desa Pasuruhan Watim Suseno mengatakan, pihaknya hingga kini tidak mengetahui keberadaan Baridin. "Kami juga telah sampaikan kepada masyarakat, jika mengetahui keberadaan Baridin untuk segera melaporkan ke pihak berwajib. Demikian pula kepada Baridin, kami harapkan untuk menyerahkan diri agar permasalahan segera selesai," katanya.
     
Sementara mengenai Arina Rahma, dia mengaku belum mengetahui status yang diberikan Mabes Polri kepada putri Baridin ini. Kendati demikian, dia percaya Arina sama sekali tidak mengetahui jika lelaki yang dinikahinya adalah Noordin M Top.
    
"Setahu Arina, suaminya adalah seorang guru sebuah madrasah di Makassar, bernama Ade Abdul Halim," katanya.
     
Terkait kondisi Desa Pasuruhan pascapenggerebekan, dia mengatakan, saat ini warganya sudah kondusif. Bahkan kelompok masyarakat yang semula terkesan eksklusif (kelompok pengajian Baridin), kata dia, kini telah terbuka dalam menjalankan aktivitasnya bersama warga lainnya.
     
Dalam berbagai kegiatan termasuk tarawih keliling selama bulan Ramadhan lalu, lanjutnya, pihaknya selalu berusaha mengajak masyarakat untuk menciptakan situasi kondusif. "Kami juga berpesan kepada para penceramah untuk tidak menyampaikan materi-materi yang bersifat provokasi, melainkan materi yang membangun umat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.
     
Informasi yang dihimpun dari warga, dalam setiap ceramahnya Kepala Desa Pasuruhan Watim Suseno selalu berharap peristiwa yang terjadi di desanya tidak terulang lagi.
     
"Pak Kades pernah sampai menangis dalam ceramahnya. Dia minta agar kasus Baridin tidak terulang lagi," kata seorang warga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau