Rusun Marunda Minim Fasilitas

Kompas.com - 12/10/2009, 06:52 WIB
 

JAKARTA, KOMPAS.com - Walau sudah hampir lima tahun beroperasi, fasilitas rumah susun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, belum juga memadai. Kondisi itulah yang membuat warga Jakarta yang terkena penggusuran atau relokasi enggan menerima tawaran pemerintah untuk menempati rusun tersebut.

Fasilitas yang belum dimiliki rusun ini adalah air bersih, transportasi umum, sekolah, dan pasar. Sementara untuk listrik, hanya tiga blok yang telah dialiri listrik karena memang baru tiga blok ini yang telah dihuni.

Rencananya, di kompleks rusun ini akan dibangun 38 blok, yang masing-masing terdiri atas 100 unit. Hingga kini telah selesai dibangun 26 blok, tetapi yang ditempati baru tiga blok, yakni Blok Bandeng, Bawal, dan Hiu.

Ny Dewi, penghuni di Blok Bawal Lantai III, mengatakan, sejak tinggal di rusun ini, dia harus merogoh kocek lebih dalam. ”Setiap hari saya harus membeli air bersih untuk mandi dan cuci. Sebenarnya di rusun ada air sumur pompa, tetapi airnya sudah tercampur air laut,” kata Ny Dewi.

Untuk keperluan sehari-hari, Ny Dewi menggunakan air kemasan untuk konsumsi dan air gerobak untuk mandi dan cuci. ”Untuk air gerobak, saya membeli Rp 10.000 per gerobak isi 4 kaleng. Satu kaleng isinya 20 liter,” katanya.

Rusun ini sebenarnya cukup menarik karena terletak dekat dengan lokasi wisata pesisir, yakni Rumah Si Pitung, Masjid Al Alam, dan pantai publik Marunda. Namun, lokasi wisata ini belum menjadi nilai tambah bagi warga sekitar karena belum ditata dengan baik oleh pemerintah.

Sementara kebutuhan pokok warga, seperti transportasi, sekolah, dan pasar, juga tak ada. Warga harus naik ojek ke luar kompleks untuk menemukan angkutan umum. Warga pun membayar lebih mahal untuk tinggal di daerah ini.

Mengenai fasilitas yang minim ini, Kepala Sudin Perumahan Jakarta Utara Joko Dawoed mengakui, pihaknya saat ini sedang mengupayakan sejumlah perbaikan. ”Kami sedang mengupayakan untuk pemasangan listrik dan air di sejumlah blok yang belum dihuni. Kami juga terus berkoordinasi dengan unit terkait untuk melengkapi kebutuhan masyarakat lainnya,” ujarnya.

Saat ini, sebagian besar penghuni Rusun Marunda berasal dari eks gusuran kolong tol yang difasilitasi pemerintah dengan mendapatkan tarif yang lebih murah dari harga umum, dari Rp 90.000 hingga Rp 350.000.

Warga Jakarta yang ingin mendapatkan hunian di rusun ini, Joko mengatakan, tidak akan dipersulit. ”Kalau segala persyaratan telah dilengkapi, seperti memiliki KTP DKI, surat keterangan dari lurah setempat, dan mempunyai penghasilan tetap, bisa langsung mengajukan permohonan untuk mendapatkan hunian Rusun Marunda,” ujarnya. (ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau