Persiapan Film "Menculik Miyabi" Jalan Terus

Kompas.com - 13/10/2009, 09:07 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski kedatangan bintang panas asal Jepang, Maria Ozawa alias Miyabi (23), yang semula dijadwalkan tanggal 14 Oktober tertunda hingga waktu yang belum ditentukan, rencana pembuatan film Menculik Miyabi tetap berjalan.

Hal itu dikemukakan produser film Menculik Miyabi, Ody Mulya Hidayat, di kantornya di kawasan Mangga Dua, Jakarta Pusat, Senin (12/10).

Sejak muncul ide mendatangkan Miyabi ke Indonesia untuk bermain dalam film Menculik Miyabi, kata Ody, dia sangat yakin gagasannya itu akan jadi kenyataan. Namun, mendadak semua itu terganggu tatkala muncul banyak tekanan dan penolakan Miyabi datang ke Indonesia.

”Kini, malah jadi masalah, dan akibatnya lumayan. Saat ini saya pusing dengan berbagai tekanan. Ternyata hal ini pun dirasakan pihak manajemen dan Miyabi sendiri. Namun, konsensus kami sudah tetap bahwa produksi film Menculik Miyabi terus berjalan, tapi dalam waktu yang belum ditentukan,” ujar Ody.

Kata Ody, tekanan yang sampai ke manajemen Miyabi memungkinkan jadwal kedatangan Miyabi dan proses produksi film diundur.

Dia mengaku tak habis pikir, apa yang jadi idenya justru menimbulkan ekses negatif yang begitu tinggi.

”Ide mendatangkan Miyabi dan menjadikannya bintang utama dalam film Menculik Miyabi ini sudah muncul sejak enam bulan lalu. Awalnya, saya merasakan bagaimana kondisi film produksi Indonesia mulai surut dalam kurun dua tahun terakhir. Kini sebuah film bisa ditonton 500.000 orang saja sudah hebat,” katanya.

Minimnya jumlah penonton film itu, kata Ody, kemungkinan karena masyarakat sudah bosan dengan jenis film yang ada, termasuk artis-artisnya. Maka, ide untuk mencampurkan pemain asing dan pemain lokal pun muncul.

”Itulah awalnya kenapa muncul ide mendatangkan Miyabi,” ujarnya.

”Saat itu kami mencari-cari lewat internet, siapa saja artis asing yang bagus, tapi dengan tarif kontrak yang cukup terjangkau. Alasan utamanya, ini bisnis yang harus menguntungkan, dan tetap jadi pilihan sebagai sebuah hiburan yang sehat. Jadi, bukan seperti anggapan yang ada sekarang bahwa ini nanti sama dengan film porno atau vulgar,” tutur pria yang sudah memproduseri 17 film lokal itu.

Ekses negatif ini memang tidak diduga oleh Ody. Pihak Maxima Pictures sebagai distributor dan rumah produksi film Menculik Miyabi harus menerima eskes negatif itu, salah satunya, kantor mereka didemo oleh massa dari sebuah LSM.

Ody pernah mengatakan, untuk melakukan kontrak dengan pihak manajemen Miyabi sangat tidak mudah dan butuh biaya besar.

”Sejumlah pembicaraan dan negosiasi kami lakukan hingga ke beberapa negara di mana Miyabi sedang berada. Nah, saat sudah ada lampu hijau, ternyata masalah datang. Seharusnya, orang tidak melihatnya dari satu sisi saja. Kenapa kesan porno itu yang selalu dimunculkan?" ujar pria yang pernah mendapat julukan sebagai produser khusus film horor ini.

Namun, semangat untuk tetap berkarya membuat film tampak jelas dari wajah dan suara lantang Ody. Pengalaman pernah mendapatkan cacian dari banyak orang tentang film horornya yang dinilai terlalu vulgar menampilkan lekuk tubuh wanita membuat Ody yakin bahwa dia masih bisa membuat film yang lebih baik.

”Saat ini kami akan mengatur jadwal ulang kedatangan Miyabi dan persiapan proses produksi film Menculik Miyabi. Sebab, kami tidak ingin masalah yang masih cukup hangat di masyarakat muncul lagi dan akhirnya mengganggu proses produksi," kata Ody.

Hal itu pun, kata dia, mendapat tanggapan positif dari pihak manajemen Miyabi. Yang jelas, persiapan tetap jalan, dan kami masih akan menentukan di mana lokasi terbaik untuk mulai syuting film berjenis komedi remaja ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau