Cegah Penyerangan ke Malaysia, Polisi Perketat Pengamanan Entikong

Kompas.com - 13/10/2009, 15:42 WIB

PONTIANAK, KOMPAS.com — Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengerahkan 30 personelnya untuk menjaga kawasan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Entikong di Kabupaten Sanggau. Pengetatan pengamanan perbatasan itu dilakukan berkait isu penyerangan ke Malaysia oleh LSM Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera).

"Tiga puluh personel kami tempatkan di sana (Entikong), meskipun isu penyerangan oleh kelompok Bendera hanya upaya untuk memprovokasi hubungan Indonesia-Malaysia oleh oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Kepala Polda Kalbar Brigjen (Pol) Erwin TPL Tobing di Pontianak, Selasa (13/10).

Ditambahkannya, kebijakan menambah jumlah personel di Entikong bukan berarti isu tersebut benar, melainkan hanya untuk berjaga-jaga. "Sampai detik ini laporan intelijen kami di lapangan, situasi kamtibmas di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia masih aman terkendali," kata Erwin.

Erwin mengimbau masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat di sekitar kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia agar tidak terprovokasi isu penyerangan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. 

"Kalau ada aktivitas yang mencurigakan, kami minta masyarakat cepat melaporkan kepada petugas kepolisian terdekat," katanya. 

Sebelumnya, Komandan Korem 121/Alambhana Wanawwai Kolonel Inf Nukman Kosadi menyatakan siap menghalau Bendera yang diisukan akan menyerang Malaysia. Pernyataan disampaikan di sela-sela kunjungan Dubes RI untuk Malaysia Da’i Bachtiar ke Kuching dan wilayah perbatasan, Minggu (11/10).

"Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda pasukan Bendera menggunakan perbatasan Entikong untuk masuk ke wilayah Sarawak, Malaysia. Saya tidak yakin mereka akan menyerang Malaysia," katanya.

"Kami telah memantau di 31 pos perlintasan perbatasan hingga saat ini tidak ada tanda-tanda mereka datang dan mencoba masuk ke wilayah Malaysia. Jika memang ada, akan segera kami halau," kata Nukman, yang terus memantau pos-pos perbatasan bersama-sama dengan tentara darat Malaysia.

Tidak mudah

Menurut dia, ancaman Bendera itu tidak logis. "Untuk menggerakkan 1.500 orang itu bukan persoalan yang mudah. Bagaimana transportasinya. Bagaimana logistiknya. Apalagi mau menyerang Malaysia hanya dengan bambu runcing, samurai, dan parang. Omong kosonglah ancaman mereka," katanya.

"Ancaman Bendera yang ingin menyerang Malaysia hanya dibesar-besarkan oleh pers Malaysia beberapa hari belakangan ini. Di Indonesia, ancaman mereka tidak ada yang menghiraukan," kata Nukman.

Bendera, sebuah LSM yang mendeklarasikan perang atau ganyang Malaysia antara 8-22 Oktober 2009, telah membuat resah pejabat pemerintah dan pers Malaysia. Bendera mengklaim telah memiliki 1.500 orang yang siap perang dengan Malaysia dan mendapat dukungan 8.000 orang TKI di Malaysia yang juga bersedia perang dengan Malaysia.

Bendera jugalah yang melakukan sweeping terhadap warga Malaysia di Jalan Diponegoro, Jakarta, belum lama ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau