ML sampai Ketakutan

Kompas.com - 14/10/2009, 19:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski buron, tersangka teroris Syaifudin Zuhri dan M Syahrir ternyata masih bersemangat merekrut anggota baru. Seperti diakui ML, seorang mahasiswa baru Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, kedua orang yang baru dikenalnya sejak Ramadhan lalu itu sampai berkali-kali mendekatinya.

ML mengenal keduanya sebagai Rahman dan Sidik yang mengaku teknisi komputer dan penjual es campur. Ia mengenalnya dari rekan satu kosnya bernama Z yang bertemu pertama kali dengan Zuhri dan Syahrir di Masjid As Salam, yang hanya berjarak 100 meter dari rumah kos Zuhri dan Syahrir saat Ramadhan lalu.

Meski Z yang pertama mengenal, Zuhri dan Syahrir ternyata lebih akrab dengan ML. Saat Zuhri dan Syahrir pertama kali bertandang, Z dan satu rekan lainnya R sibuk bermain PlayStation, sedangkan ML menyambut obrolan keduanya. Di akhir pembicaraan, Syahir menanyakan nomor ponsel ML.

"Saya minta nomor handpone-mu. Siapa tahu besok-besok ada keperluan atau kepentingan lain," ujar Syahir seperti ditirukan ML kepada Persda Network.

Selanjutnya, ML memberikan nomor handphone kepada Sidik atau Syahrir. Malam itu pembicaraan berakhir sampai pukul 23.00 WIB. Keduanya lantas pulang entah ke mana.

Setelah diceramahi Zuhri, ML mengaku sempat terbawa secara emosional untuk ikut sebagai aktor perubahan bagi kemajuan Islam.

"Saya terbawa omongan dia dan merasa yakin sekali untuk menjadi aktor perubahan Islam. Sebagai mahasiswa, saya luluh dan meragukan untuk meneruskan studi saya," kata ML mengenang.

Terus datangi

Tak hanya sekali Zuhri-Syahrir menemui ML. Malam berikutnya, ia datang lagi ke rumah kos ML. Selanjutnya, ML dan Zuhri-Syahrir mengobrol di luar rumah kos. "Saat itu saya ngobrol di bangku panjang di depan," ujarnya. Namun, obrolan kedua tidak berlangsung panjang karena ML ikut bermain PS.

Gagal menjadikan ML sebagai pendengar setia malam itu, giliran Syahrir yang merayunya sebelum mereka pulang. "Besok ada acara enggak? Saya mau ngundang kamu buka puasa bersama di Ciputat," kata Sidik. ML membalas ajakan Syahrir dengan bertanya, "Ada acara apa?" "Silaturahmi," jawab Syahrir.

Merasa diajak, ML pun mengatakan kepada keduanya akan mengajak teman-temannya seperti Z dan R. Namun, permintaan ML ditolak Syahrir. "Enggak usah sama yang lain. Kamu saja sendiri," pinta Syahrir. ML pun sempat heran dan menanyakan kenapa Z dan R tidak diajak. "Padahal, Z adalah orang yang kenalan sama mereka berdua pertama kali," kata ML keheranan.

Akhirnya, ML pun menyanggupi akan hadir silaturahim jika tidak ada acara. Mendengar akan datang, Syahrir berpesan, "Ya udah, kalau mau hadir besok ke Ciputat dan SMS saya. Nanti saya telepon balik," urai Syahrir. ML tidak mengetahui pasti detail acara silaturahim nanti seperti apa. Namun esoknya, ML tidak hadir seperti yang dijanjikannya malam itu.

Malam ketiga, Rahman dan Sidik mendatangi lagi rumah kos ML. Merasa bosan mengobrol, ML malam itu tidak berada di rumah kos karena merasa akan didatangi lagi oleh keduanya. Namun, pada malam kesekian berikutnya, ML didatangi lagi Zuhri-Syahrir. Meski ada Z dan R, hanya ML yang diajak ngobrol oleh Zuhri-Syahrir. "Bos, ayo ngobrol-ngobrol lagi," pinta Syahrir dengan bahasa gaul. ML pun lalu mengamini permintaan Zuhri dan mereka ngobrol di teras.

Syahrir yang jarang bersuara, ketika itu ikut bertanya, "Kapan mudik?" ML menjawab, "Tanggal 17." ML lantas bertanya kepada keduanya soal di mana mencari tas bekas yang bagus. Mendengar ini, Syahrir membalasnya, "Di Senen. Bagus-bagus. Kalau mau beli tas kebetulan saya juga mau ke Senen, bareng sama saya sekalian." ML pun menjawab tawaran Syahrir dan berkata, "Ya sudah. Kalau jadi saya bareng ke sananya."

Keesokan harinya, Syahrir mengirim pesan kepada ML soal keinginannya pergi ke Senen. "Jadi enggak mau ke Senen? Saya anterin ke tempat tas. Kualitasnya bagus dan harganya murah," tulis Syahrir dalam SMS kepada ML. Namun, ML tidak menjawab pesan pendek Syahrir tersebut. Namun pada malam harinya, Zuhri-Syahrir datang lagi ke rumah kos, tetapi ML tidak berada di kos.

Interaksi ML dengan Zuhri-Syahrir berlanjut lagi seminggu setelah Lebaran. Entah tahu dari mana, Zuhri mengirim pesan ke ML pada Minggu sore, hari kedatangan ML ke Jakarta, setelah sepekan menghabiskan libur Lebaran di Jawa Timur. "Sudah datang ke Jakarta belum? Ini Rahman yang ke main ke kos waktu itu," tulis Rahman alias Zuhri. Dijawab oleh ML, "Ya. Gue udah di Jakarta tadi pagi." Lantas Zuhri pun membalas dan mengajaknya ketemuan, tetapi ML malas menjawab.

Dikatakan ML, Zuhri rela mengganti kartu operator telepon seluler dengan XL agar sama dengan kartu milik ML dengan tujuan bisa berkomunikasi secara murah. Padahal, sebelumnya Zuhri memiliki kartu Simpati.

Tidak mendapat jawaban ML, menjelang maghrib sekitar pukul 17.30 WIB, Zuhri menelepon ML dan mengajaknya ketemuan di rental PlayStation (PS). "Bisa ketemuan di PS? Ada kepentingan yang mau diomongin," pinta Zuhri. Akhirnya, ML pun bersedia menemuinya di rental PS. Lantas Rahman mengatakan, "Ya udah saya tunggu di PS saja." Belum sempat bicara banyak, ML mematikan teleponnya.

Ajakan pertemuan di rental PS tidak dilakukan ML. Ia merasa ketakutan dan menghindar untuk tidak balik ke rumah kosnya dan memilih mendatangi komunitas forum diskusinya. "Gue takut kalau diajak ke mana-mana," kata ML.

Dua hari berselang, tepatnya tanggal 6 September, Rahman alias Zuhri mengirim pesan lagi. "Bisa ketemuan enggak di PS? Ini si Rahman yang kemarin ke PS," tulis Rahman dalam pesannya yang dikirimkan pukul 12.00. Merasa curiga dan ketakutan, ML tidak membalas pesan Rahman.

ML pun sempat beberapa hari tidak ada di rumah kosnya untuk menghindari mereka. Namun, Rahman dan Sidik tetap mencarinya ke rumah kos dan PS. Hal ini diketahuinya dari R yang satu kos dengan ML. "Ada teman kamu ke sini. Sampai tiga kali dari jam 13.00-14.00," kata R kepada ML.

Tidak berhasil menemui ML, menjelang maghrib pukul 17.30, Rahman mengirim pesan kepada ML, "Entar malam mau main ke PS. Kamu di mana?" Kali ini ML pun tidak membalas. Dikatakan ML, pesan Rahman yang dikirimkan untuknya hari itu adalah pesan terakhir Rahman selama berhubungan dengannya.

Sampai hari penggerebekan tiba, Jumat (9/10), ML tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Rahman dan Sidik. Saat penggerebekan, ML ada di tempat forum studinya. Ia mendengar ada penggerebekan di Semanggi II dari omongan ibu-ibu yang lalu lalang melewati depan kamarnya menyebut ada dua orang teroris tertangkap. "Dalam hati, pikiran gue langsung menuju Rahman dan Sidik. Gue udah ada firasat kalau dua orang itu mereka," kata ML membatin saat itu.

Untuk memastikan benar tidaknya Rahman dan Sidik yang tertembak, ML mencoba menelepon nomor HP Rahman. "Setelah saya telepon, HP-nya tidak aktif. Kalau itu bukan Rahman dan Sidik, pastinya teleponnya aktif. Dan kalau aktif, mereka pasti SMS gue," kata ML. Setelah melihat foto kedua teroris tersebut, ML membenarkan bahwa keduanya yang sering mendatanginya. (YOG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau