SBY Siap Ganti Calon Menteri Tersandung Hukum

Kompas.com - 14/10/2009, 23:35 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono berkomitmen bahwa proses penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu II harus dilakukan secara transparan dan akuntabel. Maka itu, pada hari Sabtu (17/10) mendatang, masyarakat akan mengetahui calon-calon menteri yang akan menduduki kursi menteri di KIB II periode 2009-2014.

"Ketika nama-nama calon menteri diumumkan, bisa jadi ada laporan mengenai calon yang bersangkutan dari masyarakat. Kita akan coba cek terlebih dahulu. Jika ternyata memiliki kasus hukum, yang bersangkutan bisa diganti," ujar SBY kepada para wartawan di kediamannya di Puri Cikeas Indah, Bogor, Rabu (14/10).

SBY mencontohkan, dirinya pernah mengganti dua menteri anggota KIB I saat menjelang pelantikan. Selain itu, kata SBY, ada faktor lainnya yang menyebabkan status calon menteri seseorang hilang. "Yaitu ketika yang bersangkutan tidak bersedia menandatangani Pakta Integritas dan Kontrak Kinerja, yang antara lain, berisi mengenai target-target pencapaian. Selain itu, akan ada evaluasi tahunan," tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat itu juga membeberkan kelemahan KIB I. "Ada sasaran yang tidak tercapai karena terjadi bottle neck karena regulasi yang bertabrakan, tumpang tindih kewenangan, dan lainnya," tambah SBY.

Menurut mantan Menko Polkam pada era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri ini, permasalahan bottle neck dapat diatasi dengan reformasi birokrasi dan mencegah praktik yang tidak benar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau