Karnaval Hari Perdamaian Dunia di Ambon

Kompas.com - 14/10/2009, 23:53 WIB

AMBON, KOMPAS.com--Kegiatan karnaval dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Perdamaian Dunia yang penyelenggaraannya dijadwalkan di Ambon, pada pertengahan November 2009, akan menampilkan aneka budaya nusantara.

Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata(Disbudpar) Maluku, Florence Sahusilawane, di Ambon, Rabu, mengatakan, sedikitnya budaya dari 20 suku di Tanah Air akan ditampilkan pada karnaval yang dijadwalkan digelar pada 27 Oktober 2009.

Karnaval itu bertema "Melalui Keragaman Budaya Kita Merajut Perdamaian dan Persahabatan Abadi".

"Budaya dari 20 suku di Tanah Air ini ditampilkan masyarakat yang telah bermukim di Maluku melalui paguyuban-paguyuban tetap yang diwarisi sebagai warisan leluhur yang dijunjung tinggi dan diwariskan turun-temurun sehingga memperkaya kebudayaan maupun kesenian Maluku sebagai cerminan Bhinneka Tunggal Ika," ujar Florence.

Dia mencontohkan, telah menghubungi masyarakat asli Ponorogo yang menjadi transmigran di Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), untuk menyajikan kesenian Reog mewakili pulau Jawa, tarian dari Toraja(Sulawesi) dan Sumatra dengan sejumlah tarian dan kesenian yang tetap dilestarikan biar telah menjadi warga Maluku.

"Ini adalah potensi keberagaman yang akan menyatukan Indonesia melalui kebudayaan dan kesenian yang suku lainnya di Tanah Air sebagai aset Maluku di bidang pariwisata," kata Florence.

Dia berharap dengan adanya karnaval budaya memeriahkan Perayaan Hari Perdamaian Dunia yang gongnya dijadwalkan ditabuh Presiden Susilo bambang Yudhoyono(SBY) terjalin integrasi nasional.

"Saya berharap melalui karnaval budaya terjalin interaksi strategis yang memperkaya khasanah budaya nasional di Maluku sebagai aset pariwisata berprospek menjaring wisatawan berkunjung ke daerah ini," ujar Florence.

Diperkirakan sekitar 600-an orang akan memeriahkan karnaval yang akan dipusatkan pada Lapangan Merdeka Ambon, menyusul mengitari ruas-ruas jalan protokoler di pusat ibukota provinsi Maluku.

"Jadinya diintensifkan program sadar wisata sehingga masyarakat yang menonton berperanserta memelihara keamanan agar kegiatan berlangsung tertib, lancar dan sukses," katanya.

Disbudpar Maluku juga akan menggelar festival budaya pada 6 November 2009.

Festival itu akan menampilkan pagelaran seni kolaborasi musik sawat dengan tifa dan totobuang, karya seniman Maluku yang akan menjadi pengiring tarian tradisional "tari lenso" (tari menyambut tamu), serta tari tifa dan tari pukul manyapu.

Tari Pukul Manyapu yang diciptakan oleh seniman Maluku mengadopsi kegiatan 7 hari setelah 1 Syawal di Desa Mamala dan Morela, Kecamatan Leihitu, Pulau Ambon itu dipamerkan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 17 Agustus 2008 dan  karnaval budaya di Istana Merdeka, 18 Agustus 2008.

"Tari Pukul Manyapu mendapatkan penghargaan sebagai penyaji terbaik nomor dua di TMII saat itu," kata Florence Sahusilawane.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau