Para Perompak Dikuasai Sindikat

Kompas.com - 15/10/2009, 08:32 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com-Perompak yang beroperasi di lepas pantai Somalia dikuasai oleh sindikat-sindikat kejahatan, termasuk warga asing yang tergiur oleh uang tebusan jutaan dollar AS. Hal itu disampaikan Interpol dan sejumlah pejabat lainnya, Rabu (14/10).

Selain itu, para perompak juga menguasai persenjataan canggih dan alat-alat pelacak yang memungkinkan mereka meluaskan jangkauan mereka.

”Ini sebuah organisasi kejahatan,” ungkap Jean-Michel Louboutin, Direktur Eksekutif Pelayanan Polisi di Interpol.

Dia membenarkan ketika ditanya adanya keterlibatan orang-orang dari luar Somalia dalam aksi-aksi perompakan itu.

Louboutin dan beberapa pejabat lainnya menegaskan, kehadiran armada internasional untuk mengawasi Teluk Aden, khususnya di lepas pantai Somalia yang marak dengan aksi perompakan, tidak cukup untuk menyelesaikan permasalahan. Oleh karena masalah ini juga mempunyai dimensi-dimensi sosial dan ekonomi.

Mereka berbicara di sela-sela Sidang Majelis Umum Ke-78 Interpol, di Singapura, yang akan berakhir hari Kamis (15/10).

Makin canggih

Mick Palmer, Inspektur Australia untuk urusan keamanan transportasi, mengatakan, ada bukti yang semakin jelas mengenai peningkatan kecanggihan para perompak, yang membajak kapal-kapal dan menawan awaknya untuk meminta tebusan.

”Persenjataan mereka terus semakin canggih. Serangan mereka pun semakin jauh, jauh ke laut lepas... hingga sejauh 1.200 mil laut dari pantai,” paparnya.

Palmer berkeyakinan para perompak mendapatkan bantuan peralatan canggih sehingga bisa mengetahui posisi kapal-kapal dagang yang besar.

Dia juga mengungkapkan, para perompak biasa Somalia hanya mendapatkan porsi kecil dari rata-rata uang tebusan sebesar 2 juta dollar AS untuk setiap kapal yang dibajak. Perompak biasa Somalia menerima hanya 10.000 dollar AS dari uang tebusan. Setengah juta dollar AS dibayarkan kepada orang yang mengirim tebusan, biasanya oleh sebuah helikopter yang mendarat di kapal yang dibajak dan 500.000 dollar AS lainnya menjadi bagian para juru runding.

Hal itu, kata Palmer, mengindikasikan keterlibatan organisasi-organisasi kejahatan besar, yang mendapatkan uang dalam jumlah besar,

”Di sana ada sebuah industri besar. Di sana ada uang yang banyak yang dihasilkan dari pembajakan. Tetapi para perompak itu sendiri, banyak dari mereka hanya remaja dari keluarga miskin dan tidak beruntung, mendapatkan uang sangat sedikit,” papar Palmer.

Inspektur polisi Australia itu menjelaskan, memburu aliran uang dari kelompok-kelompok kriminal yang terlibat sangat penting untuk memecahkan masalah ini. Oleh karena tidak ada penjahat yang bisnisnya adalah untuk kehilangan uang. ”Mereka hanya terlibat untuk mendapat uang.” katanya.

Palmer menambahkan, perusahaan pelayaran juga kehilangan rata-rata 7 juta dollar AS untuk setiap pembebasan tawanan, yang biasanya berakhir setelah 70 hari. (AFP/OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau