Kilang Pengisian Elpiji Pertamina di Jatim Terbatas

Kompas.com - 15/10/2009, 20:27 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Selama enam bulan terakhir, distributor elpiji di Jawa Timur mengalami pengurangan pasokan elpiji dari rata-rata empat rit per hari menjadi dua rit per hari. Masalahnya, hanya tersedia satu kilang pengisian elpiji Pertamina. Sementara itu, jumlah stasiun pengisian bulk epiji atau SPBE di Jawa Timur terus bertambah.

Ketua Umum Hiswana Migas Jatim Hari Kristanto mengatakan, para pengelola SPBE harus rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan pasokan elpiji Pertamina di kawasan Perak, Surabaya. "Saat ini untuk mendapatkan pasokan elpiji empat rit saja sulit sekali karena kami harus mengantre. Kondisi ini akan lebih parah karena jumlah SPBE akan bertambah," ucapnya, Kamis (15/10) di Surabaya.

Menurut Hari, di Jawa Timur terdapat 12 stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) lama dan 9 SPBE baru. Bulan depan akan tambah 10 SPBE baru, antara lain di Tulungagung, Nganjuk, dan Surabaya. "Total jumlah pengajuan izin pengoperasian SPBE di wilayah Jatim, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur sebanyak 101 SPBE," katanya.

Keterbatasan pasokan elpiji berimbas pada naiknya harga elpiji. Hal ini terlihat dari kenaikan harga elpiji yang sudah berlangsung sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga.

Di tingkat pasar, harga elpiji berbobot 12 kilogram sudah naik sekitar sepekan terakhir. Nanik (55) penjual makanan di Jalan Pahlawan, Surabaya, mengatakan, harga elpiji 12 kilogram yang biasanya Rp 73.000 per tabung naik hingga Rp 75.000 per tabung. Padahal, harga elpiji berbobot 12 kilogram normal di tingkat agen hanya Rp 70.200 per tabung.

Setor ke Jateng

Selain ketidakseimbangan antara kilang minyak dan SPBE, sebagian persediaan elpiji di Jatim juga dipasok ke Jateng. Hal ini dilakukan jika kilang pengisian di Cilacap mengalami masalah. "Keterlambatan pasokan elpiji di pasar bukan karena terbatasnya SPBE, melainkan pasokan elpiji dari Pertamina yang terbatas," kata Hari.

Sementara itu, Asisten Manajer External Relations Pertamina Unit Pemasaran Region V Eviyanti Rofraida mengatakan, kapastias kilang pengisian elpiji Jatim di Surabaya sebesar 1.800 metrik ton. Dengan konsumsi elpiji Jatim sebanyak 1.600 metrik ton, stok elpiji Jatim kadang harus menyuplai kebutuhan elpiji Jateng sekitar 200 metrik ton.

Setelah konversi minyak tanah berjalan, diperkirakan konsumsi elpiji Jatim mencapai 2.500 metrik ton. Karena itu, agar kebutuhan elpiji terpenuhi, pertengahan November mendatang pasokan elpiji akan bertambah dengan beroperasinya kilang pengisian elpiji di kawasan PT Maspion Group, Gresik, dengan kapasitas 10.000 metrik ton.

"Kami berharap, pengoperasian kilang pengisian elpiji di PT Maspion, Gresik, mampu memenuhi keterbatasan penyediaan elpiji di Jatim," ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau