SURABAYA, KOMPAS.com — Selama enam bulan terakhir, distributor elpiji di Jawa Timur mengalami pengurangan pasokan elpiji dari rata-rata empat rit per hari menjadi dua rit per hari. Masalahnya, hanya tersedia satu kilang pengisian elpiji Pertamina. Sementara itu, jumlah stasiun pengisian bulk epiji atau SPBE di Jawa Timur terus bertambah.
Ketua Umum Hiswana Migas Jatim Hari Kristanto mengatakan, para pengelola SPBE harus rela mengantre berjam-jam untuk mendapatkan pasokan elpiji Pertamina di kawasan Perak, Surabaya. "Saat ini untuk mendapatkan pasokan elpiji empat rit saja sulit sekali karena kami harus mengantre. Kondisi ini akan lebih parah karena jumlah SPBE akan bertambah," ucapnya, Kamis (15/10) di Surabaya.
Menurut Hari, di Jawa Timur terdapat 12 stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) lama dan 9 SPBE baru. Bulan depan akan tambah 10 SPBE baru, antara lain di Tulungagung, Nganjuk, dan Surabaya. "Total jumlah pengajuan izin pengoperasian SPBE di wilayah Jatim, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur sebanyak 101 SPBE," katanya.
Keterbatasan pasokan elpiji berimbas pada naiknya harga elpiji. Hal ini terlihat dari kenaikan harga elpiji yang sudah berlangsung sebelum pemerintah mengumumkan kenaikan harga.
Di tingkat pasar, harga elpiji berbobot 12 kilogram sudah naik sekitar sepekan terakhir. Nanik (55) penjual makanan di Jalan Pahlawan, Surabaya, mengatakan, harga elpiji 12 kilogram yang biasanya Rp 73.000 per tabung naik hingga Rp 75.000 per tabung. Padahal, harga elpiji berbobot 12 kilogram normal di tingkat agen hanya Rp 70.200 per tabung.
Setor ke Jateng
Selain ketidakseimbangan antara kilang minyak dan SPBE, sebagian persediaan elpiji di Jatim juga dipasok ke Jateng. Hal ini dilakukan jika kilang pengisian di Cilacap mengalami masalah. "Keterlambatan pasokan elpiji di pasar bukan karena terbatasnya SPBE, melainkan pasokan elpiji dari Pertamina yang terbatas," kata Hari.
Sementara itu, Asisten Manajer External Relations Pertamina Unit Pemasaran Region V Eviyanti Rofraida mengatakan, kapastias kilang pengisian elpiji Jatim di Surabaya sebesar 1.800 metrik ton. Dengan konsumsi elpiji Jatim sebanyak 1.600 metrik ton, stok elpiji Jatim kadang harus menyuplai kebutuhan elpiji Jateng sekitar 200 metrik ton.
Setelah konversi minyak tanah berjalan, diperkirakan konsumsi elpiji Jatim mencapai 2.500 metrik ton. Karena itu, agar kebutuhan elpiji terpenuhi, pertengahan November mendatang pasokan elpiji akan bertambah dengan beroperasinya kilang pengisian elpiji di kawasan PT Maspion Group, Gresik, dengan kapasitas 10.000 metrik ton.
"Kami berharap, pengoperasian kilang pengisian elpiji di PT Maspion, Gresik, mampu memenuhi keterbatasan penyediaan elpiji di Jatim," ucapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang