Secara tidak langsung, semua saham Adaro Indonesia dimiliki oleh PT Adaro Energy Tbk. Menurut Director and Corporate Secretary Adaro Energy Andre J Mamuaya, Jumat (16/10), obligasi tersebut diterbitkan 22 Oktober 2009, dan jatuh tempo 22 Oktober 2019.
Tingkat suku bunga tetap yang ditawarkan 7,625 persen per tahun, dibayarkan setiap enam bulan sekali. Obligasi ini diterbitkan dalam denominasi 10.000 dollar AS dan sepenuhnya dijamin Adaro Energy.
Deputy Corporate Secretary Adaro Energy Devindra Ratzarwin menyatakan belum dapat memberi informasi rinci jaminan yang diberikan Adaro pada penerbitan obligasi ini, sampai 30 hari setelah periode semua transaksi selesai (black out).
”Kami terikat perjanjian dengan semua pihak yang terkait penerbitan obligasi ini, untuk tidak memberi keterangan rinci sampai 30 hari setelah periode black out berakhir,” katanya.
Obligasi itu akan dicatatkan di Bursa Singapura. Persetujuan prinsip pencatatan dan quotation Senior Notes telah diperoleh dari Singapore Exchange Securities Trading Limited.
Untuk keperluan penerbitan Senior Notes, Adaro Indonesia menunjuk Credit Suisse, DBS Bank Ltd dan UBS AG jadi
Adaro Energy adalah perusahaan tambang batu bara terbesar kedua di Indonesia setelah PT Bumi Resources Tbk. Tahun 2008, Adaro mencatat penjualan batu bara lebih dari 41 juta ton.
Sementara itu, PT Bakrieland Development Tbk berencana memperpanjang masa beli balik saham perseroan (buy back) hingga Rp 510 miliar, atau 20 persen dari modal disetor per 31 Desember 2008, yang akan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan ke depan.
Perpanjangan masa beli balik saham ini dilakukan karena Bakrieland belum melakukan beli balik saham seperti yang pernah disampaikan sebelumnya.
Dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Presiden Direktur Bakrieland Hiramsyah S Thaib mengatakan, 14 Juli 2009 pihaknya telah menyampaikan rencana beli balik saham perseroan. Namun, sampai akhir periode yang ditentukan, 14 Oktober, perseroan belum melakukan beli balik.
Menurut Hiramsyah, hal itu karena kondisi pasar modal dirasakan belum mendukung.
Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, rencana beli balik saham itu hendaknya benar-benar direalisasikan. ”Pengumuman rencana pembelian kembali hendaknya jangan hanya untuk mengangkat harga saham di pasar,” kata Pardomuan.
Pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan naik tipis 0,42 poin, atau 0,01 persen ke level 2.515,8. Indeks LQ45 melemah 0,07 poin atau 0,01 persen ke level 495,41 dan Indeks Kompas100 naik 0,15 poin atau 0,02 persen menjadi 612,32. (REI)