Malaysia Gagalkan Warga Afganistan ke Indonesia

Kompas.com - 18/10/2009, 17:38 WIB

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com-Polisi Malaysia telah menahan 18 warga Afganistan yang akan pergi ke Indonesia menggunakan perahu tua.

Kepala polisi laut Selangor Marzuki Ismail, Minggu (18/10), mengatakan polisi laut Malaysia yang sedang melakukan patroli laut antara Semenanjung Malaysia dengan Sumatera, Sabtu, memergoki pendatang tanpa izin dengan dua awak kapal warga Indonesia.

Kasus tersebut diduga merupakan kasus baru dengan melibatkan warga Irak, Pakistan, Sri Lanka, yang menggunakan Malaysia sebagai titik awal masuk Australia via Indonesia.

Sedikitnya 10 warga Afganistan ditahan, Sabtu, ketika memasuki Malaysia dengan paspor sah tetapi mencoba meninggalkan Malaysia secara ilegal.

Sebelumnya diberitakan bahwa Malaysia ikut memberi "subsidi" kepada rakyat Indonesia yang hidup di daerah perbatasan, karena banyak kebutuhan pokoknya mengalir dan dinikmati mereka dengan harga yang lebih murah.

"Bahan-bahan pokok seperti gula, beras, minyak goreng, tepung dan gas elpiji berasal dari Sarawak yang mengalir ke daerah perbatasan di Kalimantan Barat," kata kuasa KJRI Kuching Rafael Walangitan.

"Lihat saja di warung-warung makanan di perbatasan pasti mereka menggunakan gas elpiji produksi Petronas bukan gas elpiji Pertamina. Mungkin karena harga gas elpiji Petronas lebih murah dari Pertamina bagi masyarakat perbatasan di Kalimantan Barat," katanya.

"Tidak sedikit rakyat Indonesia di perbatasan mengisi bahan bakar mobil di Tebedu, Sarawak. Lihat saja, stasiun pengisian bensin terdekat adanya di Tebedu yakni milik Petronas," katanya.

Ketika harga minyak naik, Malaysia melarang rakyat negara lain beli minyaknya, hanya di perbatasan Sarawak dan Kalimantan Barat saja dikecualikan karena protes para pengusaha pompa bensin Malaysia akibat sepi pembeli.

Dengan demikian secara langsung Malaysia telah ikut memberikan subsidi pada rakyat Indonesia di perbatasan atas keperluan bahan-bahan pokoknya.

"Apalagi Sarawak ingin seperti Singapura. Mereka ingin menjadi pusat perdagangan. Bahan pokok yang diimpor dari China seperti beras dan gula kemudian hanya dikemas ulang bungkusnya kemudian diekspor ke Indonesia melalui Kalimantan Barat," katanya.

Karena itu, Malaysia sangat berkepentingan agar nilai perdagangan lintas Indonesia - Malaysia dinaikkan dari 600 ringgit per hari agar arus pedagangan lintas batas semakin besar.

Sementara arus barang dari Kalimantan Barat yang masuk ke Sarawak adalah sayur-sayuran, telur, dan kini mulai banyak ayam segar masuk dari Kalimantan Barat ke Sarawak.

Pertumbuhan ekonomi di Kuching Sarawak semakin pesat. Menurut gubernur Sarawak Abdul Taib Mahmud, pihaknya akan membangun kawasan industri di perbatasan, khusus barang elektronik dan kebutuhan tenaga kerjanya diharapkan dari Kalimantan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau