Pesta Karzai Tertunda

Kompas.com - 20/10/2009, 05:25 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Sebuah panel penyelidik tuduhan kecurangan dalam pemilihan presiden Afganistan memutuskan Hamid Karzai tidak menang satu putaran. Panel mengatakan, Senin (19/10) suara yang diperoleh Hamid Karzai tidak cukup untuk memenangkan satu putaran.

Sebelumnya hasil sementara putaran pertama pemilihan presiden bulan Agustus menunjukkan Karzai mendapat suara lebih batas ambang 50 persen plus satu untuk menghindari putaran kedua. Namun, BBC mendapat informasi bahwa jumlah suara yang diperoleh Karzai turun di bawah setengahnya setelah sejumlah kertas suara dinyatakan tidak sah.

Berdasarkan peraturan pemilu, Karzai kini harus melakukan pemilu putaran kedua melawan saingannya Abdullah Abdullah.

Laporan Komisi Pengaduan Pemilu, ECC, yang didukung PBB, memerintahkan suara dari 210 TPS dinyatakan tidak sah.  Panel ini mengatakan pihaknya menemukan "bukti kuat dan meyakinkan kecurangan" di TPS yang tersebar di Afganistan tersebut.

Belum jelas reaksi Karzai terhadap penemuan ECC ini dan muncul laporan kemungkinan langkah hukum atas penemuan tersebut.

Hasil awal yang dikeluarkan bulan lalu menunjukkan Karzai mendapat hampir 45 suara, sementara mantan menteri luar negeri Abdullah Abdullah mendapat 28 persen.

Presiden Afganistan itu lantas menegaskan dirinya sudah memenangi pemilu dalam satu putaran. Tapi, para pengamat pemilu Uni Eropa mengatakan satu dari empat kertas suara patut dipertanyakan.

Sumber-sumber mengatakan kepada BBC bahwa Karzai marah besar karena harus melakukan pemilu putaran kedua.

Wartawan BBC di Kabul mengatakan pemimpin Afganistan ini yakin kemenangannya di pemilu telah dirampok. Karzai juga mengancam akan menghalangi upaya melaksanakan putaran kedua.

Namun Washington memperingatkan tidak akan mengirim tentara tambahan ke Afganistan sampai tercapai penyelesaian politik.

Dalam beberapa hari terakhir para pemimpin negara Barat dan diplomat terlibat dalam kegiatan diplomasi agar Karzai menerima hasil pemilihan terakhir ini.

Namun wartawan mengatakan untuk saat ini tekanan itu tidak berhasil dan pemilihan presiden yang pada awalnya bertujuan menstabilkan Afganistan malah membawa negara itu ke situasi yang tidak menentu.

ECC melakukan penyelidikan setelah tuduhan kecurangan dalam skala besar mulai muncul.  Panel melaporkan hasil penyelidikan ini ke Komisi Pemilu Independen, IEC, yang akan mengumumkan hasil akhir pemilu. IEC dianggap sebagai badan yang pro Karzai, namun terikat secara hukum untuk menerima hasil penyelidikan ECC.

Sebelum laporan ini diumumkan, penasehat senior Karzai, Mohammad Moin Marastyal, dikutip oleh kantor berita Reuters mengkritik metodologi penyelidikan ECC dan mengatakan "sekarang kita berada di jalan buntu".

Akan tetapi ketua ECC, Grant Kippen, mengatakan kepada BBC bahwa penyeledikan panel itu "sudah memenuhi standar internasional dan terbuka, menyeluruh serta transparan".

Para diplomat menuduh IEC menunda-nunda agar presiden bisa memiliki waktu lebih untuk mencapai kesepakatan dengan Abdullah, kemungkinan berupa pembagian kekuasaan untuk menghindari pemilu putaran kedua.

Bahkan jika putaran kedua harus dilaksanakan, para pengamat mengatakan Karzai yang berasal dari kelompok etnis terbesar Afganistan, Pashtun, kemungkinan akan tetap menang.

Di saat kekerasan di Afganistan berada di tingkat terburuk sejak Taliban disingkirkan tahun 2001, banyak pihak memperingatkan bahwa masalah politik ini akan memperkuat kaum militan.


 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau