WASHINGTON, KOMPAS.com — Amerika Serikat siap untuk bertemu satu per satu dengan Korea Utara, tetapi hanya jika hal itu bisa dengan cepat memenuhi janji perundingan perlucutan nuklir enam negara.
Kurt Campbell, Asisten Menteri Luar Negeri AS Bidang Asia Timur, Selasa (20/10), mengatakan, Korea Utara juga perlu melakukan perundingan bilateral untuk meredakan ketegangan dengan negara tetangganya, Jepang dan Korea Selatan.
Pemimpin Kim Jong Il pada 6 Oktober mengatakan kepada utusan China bahwa Korea Utara bersedia kembali ke perundingan enam negara setelah menyatakan keluar dari forum itu pada April lalu.
Namun, Kim menegaskan bahwa perundingan langsung pertama dengan AS itu dimaksudkan untuk memperbaiki "hubungan yang semula bermusuhan".
"Saya pikir kami sangat jelas, kami akan siap untuk berinteraksi awal yang diharapkan akan membawa secepat mungkin ke meja perundingan enam negara," kata Campbell yang melakukan pembicaraan di Beijing pekan lalu, dilansir AFP.
"Saya pikir rekan-rekan kami di China menyampaikan itu dan juga mengatakan bahwa dengan terus terang dan langkah maju, Korea Utara mesti juga menunjukkan interaksi bilateral yang sama dengan Jepang dan Korea Selatan," kata Campbell di Dewan Hubungan Luar Negeri.
Korea Utara mempunyai hubungan kurang harmonis dengan Jepang berkaitan dengan penembakan dua kali rudal jarak jauhnya sejak 1998, dan mengecam Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak yang bersikap keras terhadap negara komunis tetangganya.
Campbell juga menyerukan agar Korea Utara menghormati pernyataan enam negara yang ditandatangani pada 2005 dan 2007, yang meletakkan landasan kerja bagi Pyongyang untuk memusnahkan senjata nuklirnya, dengan imbalan bantuan dan jaminan keamanan. Perundingan enam negara meliputi China, Jepang, kedua Korea, Rusia, dan AS.
Korea Utara sejak lama berharap untuk melakukan pertemuan eksklusif dengan AS, dan minta pengakuan dirinya sebagai satu negara yang berkemampuan senjata nuklir.
Campbell, yang juga berada di Beijing untuk mempersiapkan kunjungan bulan depan Presiden Barack Obama, mengatakan bahwa dia telah menerima informasi yang bagus mengenai kunjungan ke Pyongyang oleh Perdana Menteri China Wen Jiabao.
"Kami dengar PM Wen meyakini bahwa kondisi kesehatan Kim Jong Il bagus. Dia bisa melakukan interaksi, dan bertindak sangat aktif," kata Campbell.
Masalah kesehatan Kim menjadi sumber spekulasi para pengamat luar negeri yang berusaha menduga putranya akan menggantikannya di dalam dinasti negara komunis itu.
Kim, yang kini berusia 67 tahun, menderita stroke sekitar Agustus 2008. Pada Juli, jaringan televisi Korea Selatan dan Jepang melaporkan bahwa sang pemimpin juga menderita gangguan pankreas dan mungkin kanker.
Mantan Presiden AS Bill Clinton yang berkunjung ke Pyongyang, Agustus lalu, yang menjamin pembebasan dua wartawan AS, mengatakan bahwa penampilan Kim tak terduga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang