AS Katakan Siap Berunding dengan Korut

Kompas.com - 20/10/2009, 13:47 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Amerika Serikat siap untuk bertemu satu per satu dengan Korea Utara, tetapi hanya jika hal itu bisa dengan cepat memenuhi janji perundingan perlucutan nuklir enam negara.

Kurt Campbell, Asisten Menteri Luar Negeri AS Bidang Asia Timur, Selasa (20/10), mengatakan, Korea Utara juga perlu melakukan perundingan bilateral untuk meredakan ketegangan dengan negara tetangganya, Jepang dan Korea Selatan.

Pemimpin Kim Jong Il pada 6 Oktober mengatakan kepada utusan China bahwa Korea Utara bersedia kembali ke perundingan enam negara setelah menyatakan keluar dari forum itu pada April lalu.

Namun, Kim menegaskan bahwa perundingan langsung pertama dengan AS itu dimaksudkan untuk memperbaiki "hubungan yang semula bermusuhan".

"Saya pikir kami sangat jelas, kami akan siap untuk berinteraksi awal yang diharapkan akan membawa secepat mungkin ke meja perundingan enam negara," kata Campbell yang melakukan pembicaraan di Beijing pekan lalu, dilansir AFP.

"Saya pikir rekan-rekan kami di China menyampaikan itu dan juga mengatakan bahwa dengan terus terang dan langkah maju, Korea Utara mesti juga menunjukkan interaksi bilateral yang sama dengan Jepang dan Korea Selatan," kata Campbell di Dewan Hubungan Luar Negeri.

Korea Utara mempunyai hubungan kurang harmonis dengan Jepang berkaitan dengan penembakan dua kali rudal jarak jauhnya sejak 1998, dan mengecam Presiden Korea Selatan Lee Myung Bak yang bersikap keras terhadap negara komunis tetangganya.

Campbell juga menyerukan agar Korea Utara menghormati pernyataan enam negara yang ditandatangani pada 2005 dan 2007, yang meletakkan landasan kerja bagi Pyongyang untuk memusnahkan senjata nuklirnya, dengan imbalan bantuan dan jaminan keamanan. Perundingan enam negara meliputi China, Jepang, kedua Korea, Rusia, dan AS.

Korea Utara sejak lama berharap untuk melakukan pertemuan eksklusif dengan AS, dan minta pengakuan dirinya sebagai satu negara yang berkemampuan senjata nuklir.

Campbell, yang juga berada di Beijing untuk mempersiapkan kunjungan bulan depan Presiden Barack Obama, mengatakan bahwa dia telah menerima informasi yang bagus mengenai kunjungan ke Pyongyang oleh Perdana Menteri China Wen Jiabao.

"Kami dengar PM Wen meyakini bahwa kondisi kesehatan Kim Jong Il bagus. Dia bisa melakukan interaksi, dan bertindak sangat aktif," kata Campbell.

Masalah kesehatan Kim menjadi sumber spekulasi para pengamat luar negeri yang berusaha menduga putranya akan menggantikannya di dalam dinasti negara komunis itu.

Kim, yang kini berusia 67 tahun, menderita stroke sekitar Agustus 2008. Pada Juli, jaringan televisi Korea Selatan dan Jepang melaporkan bahwa sang pemimpin juga menderita gangguan pankreas dan mungkin kanker.

Mantan Presiden AS Bill Clinton yang berkunjung ke Pyongyang, Agustus lalu, yang menjamin pembebasan dua wartawan AS, mengatakan bahwa penampilan Kim tak terduga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau