Penunjukan Wakil Menteri Jangan untuk Politik Akomodasi

Kompas.com - 24/10/2009, 12:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dalam pidato pengumuman susunan Kabinet Indonesia Bersatu II, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyatakan akan menunjuk beberapa wakil menteri. Keberadaan wakil menteri memang dipandang perlu untuk mem-back up sejumlah menteri yang membidangi lingkup kerja yang sangat luas. Namun, penunjukan wakil menteri diharapkan tidak menjadi ranah untuk mengakomodasi kepentingan politik tertentu.

"Ada kementerian yang lingkup kerjanya memang banyak sehingga dibutuhkan wakil menteri. Nah, kalaupun itu harus ada, tidak boleh ditetapkan berdasar kepentingan politik. Artinya, hanya untuk mengakomodasi orang yang pernah berjasa mendudukkan SBY di kursi presiden," kata pengamat politik, Bachtiar Effendi, Sabtu (24/10) di Jakarta.

Saat ini, yang sudah memiliki wakil menteri adalah Menteri Luar Negeri. Ia berharap, Presiden SBY bisa cermat menentukan pos-pos menteri mana saja yang membutuhkan wakil. Wakil-wakil menteri tersebut, menurut Bachtiar, bisa dari kalangan profesional atau partai politik.

"Tidak harus profesional. Orang partai banyak juga yang profesional, tapi jangan hanya untuk akomodasi kepentingan politik, itu saja intinya," kata Bachtiar.

Terkait kewenangan, wakil menteri hanya membantu menteri dalam melakukan tugas-tugas utamanya. "Bukan hanya jadi ban serep. Tapi ada pembagian tugas dengan menteri, mungkin mengurusi administrasi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau