PEPIH NUGRAHA
Ada pesan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman saat berpidato pada perayaan hari ulang tahun pertama Kompasiana. Pesannya, tantangan ke depan Kompasiana,
Keempat generasi itu ialah, pertama,
Memang tidak mudah menyatukan minat dengan latar belakang usia yang berbeda. Namun, sebagai media sosial yang tanpa batasan usia, Kompasiana ditantang mewujudkan hal itu.
Padahal, pada awal kelahirannya setahun silam, Kompasiana masih menyandang blog jurnalis yang disokong blogger tamu, blogger selebriti, dan blogger publik. Namun, dengan tren semakin digandrunginya jaringan sosial berbasis internet, seperti Facebook dan microblogging, misalnya Twitter, Kompasiana mencoba mengikuti tren ini, bahkan memadukan keunikan di dalamnya sehingga menjadi ciri khas sendiri.
Pada tampilan baru yang resmi diluncurkan tepat ulang tahun pertamanya, Kompasiana menjadi lebih berwarna, mudah digunakan, dan memungkinkan anggotanya tersambungkan satu sama lain. Dengan semboyan "sharing. connectin"”, Kompasiana mengundang pembacanya menjadi penulis, kolumnis, dan jurnalis yang saling tersambungkan. Sesama Kompasianer saling tersambungkan, itu karena satu postingan bisa dibaca dan dikomentari bersama.
Kompasiana menyilakan siapa pun mempostingkan artikel atau laporan pandangan matanya dalam bentuk teks dan foto tanpa harus dimoderasi (disetujui) administrator. Demikian pula komentar atas sebuah postingan bisa langsung tampil tanpa harus menunggu persetujuan. Meski demikian, siapa pun yang ingin menjadi penulis dan komentator diharuskan melakukan registrasi terlebih dahulu. Dengan registrasi, otomatis ia mendapat satu blog berikut
Seperti banyak dikritik anggotanya sendiri, misalnya Prof Nurtjahjadi, Kompasianer
Derasnya kritik membuat pengelola Kompasiana meruntuhkan tembok "feodalisme" itu dengan memberi tanggung jawab penuh anggotanya untuk langsung mempostingkan artikel maupun komentarnya.
Banyak pula beranggapan, dengan langsung menayangkan postingan dan komentar tanpa moderasi Kompasiana akan menjadi tempat buang sampah informasi yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, tim Kompasiana berpikiran, dengan membebaskan Kompasianer mempostingkan langsung artikel dan komentar, tanggung jawab dan integritas mereka sebagai penulis dipertaruhkan. Pilihannya: mau mempostingkan tulisan yang bermanfaat buat yang lain atau mempostingkan tulisan yang memancing antipati.
Jika pada awal berdirinya Kompasiana yang beralamat di http://kompasiana.com masih berada di peringkat ”antah berantah”, sebagaimana disampaikan Direktur Kompas.com Taufik H Mihardja, pada perayaan ulang tahun pertamanya yang berlangsung di Mario’s Place, Kamis (22/10), Kompasiana sudah berada di ranking 300-an situs Indonesia. Situs Alexa.com menunjukkan, tepat saat ulang tahun pertama Kamis lalu, Kompasiana di ranking 300.
Di tingkat situs dunia, masih berdasarkan Alexa, Kompasiana berada di ranking 19.773. Saat pelaksanaan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden beberapa bulan lalu, ranking Kompasiana sempat melejit menyentuh angka 12.000, sebuah pencapaian yang, menurut Kusmayanto, menggembirakan mengingat usianya yang saat itu belum genap setahun. ”Jangan cuma masuk ranking 100 Indonesia, kalau bisa masuk
Hingga tulisan ini diturunkan, anggota Kompasiana 7.500-an orang. Berdasarkan Google Analytics, sehari rata-rata Kompasiana dibaca 25.000 orang. Sepanjang satu bulan terakhir, 22 September sampai 22 Oktober, Kompasiana diklik 546.913 pengunjung dengan jumlah halaman terbaca sebanyak 1,3 juta.
Saat ini sudah 14.300 tulisan yang telah dipostingkan. Jika setiap tulisan rata-rata setara tiga halaman kertas folio, terdapat 42.900 halaman, cukup untuk membuat 43 buku setebal masing-masing 1.000 halaman!