Kabinet seperti Tumpeng

Kompas.com - 26/10/2009, 06:20 WIB

Oleh Anwar Hudijono

KOMPAS.com-Membuat tumpeng itu gampang-gampang susah. Gampang karena hanya membuat nasi dicetak dalam bentuk piramida diletakkan di atas nampan, di sekelilingnya diberi rupa-rupa lauk-pauk.

Menjadi sedikit susah kalau sudah memasukkan tujuan pembuatan tumpeng, yaitu agar yang punya hajat dan yang menyantap tumpeng itu mendapat berkah keselamatan. Jadi, tidak sekadar yang penting kenyang layaknya menyantap hidangan di warung. Tumpeng harus ditata dengan cita rasa tinggi.

Seorang koki tumpeng harus paham syarat wajib, syarat penunjang, serta syarat kelayakan dan kepatutan tumpeng. Untuk menjadi tumpeng yang paripurna, syarat wajibnya adalah harus ada telur ayam rebus, sayur-sayuran, dan parutan kelapa.

Komponen ini mengandung makna. Bentuk tumpeng seperti gunung atau piramida memaknakan agar yang terlibat dalam pertumpengan memperoleh derajat yang tinggi. Derajat manusia di hadapan Tuhan bukan berdasarkan kekayaan, kepangkatan, dan status sosial, melainkan pada kadar takwanya. Tumpeng mengingatkan manusia untuk bertakwa.

Telur rebus terdiri dari kuning sebagai perlambang perempuan dan putih sebagai laki-laki. Hal ini mengingatkan agar manusia selalu ingat asal-muasalnya. Pada gilirannya, manusia juga akan kembali ke tempat yang sama asalnya atau paraning dumadi.

Ada sayur-mayur yang biasanya direbus. Hal ini memaknakan agar manusia memelihara kesuburan alam, mengingatkan manusia sebagai wakil Tuhan di atas bumi yang bertanggung jawab memelihara kebaikan alam.

Adapun parutan kelapa, entah sebagai serundeng atau bumbu urap, bermuatan nasihat agar menjadi manusia yang totalitas hidupnya berguna seperti kelapa. Pohon kelapa, mulai dari akar sampai lidinya, bermanfaat.

Adapun syarat penunjang itu agar tumpeng lebih menggairahkan, misalnya ada ayam panggang, sate sapi, buntut goreng, sambal goreng kentang, dan mi.

Syarat kelayakan dan kepatutan menyangkut format tumpeng beserta kelengkapannya bisa dimakan dengan lezat. Dengan demikian, komposisi tumpeng itu tidak boleh kurang dan tak boleh berlebihan.

Seperti tumpeng

Gampang susahnya menyusun tumpeng itu mirip dengan menyusun kabinet. Urusan gampang jika sekadar mengisikan orang pada jabatan. Susah karena menyusun kabinet ada tujuan mulia yang hendak dicapai, misalnya bisa membantu presiden agar dapat menjalankan pemerintahan yang solid, efektif, efisien, dan bersih. Pemerintah yang berkah dan manfaatnya bisa dirasakan rakyat.

Wajar kalau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan syarat dan kontrak kinerja yang harus dipenuhi calon menteri. Apalagi, walau penentuan kabinet itu hak prerogatif Presiden, tak semua kandidat dijaring sendiri oleh Presiden. Sebagian hasil sodoran partai politik peserta koalisi.

Persoalannya, figur yang disodorkan parpol belum tentu semata-mata atas dasar syarat yang ditetapkan Presiden. Ada saja yang dicalonkan karena sebagai pimpinan partai, kedekatan dengan pimpinan partai, atau karena mempunyai sumbangan yang memadai kepada partai.

Padahal, tantangan pemerintahan Yudhoyono periode kedua tak lebih ringan dari periode pertama. Seperti tumpeng, jika bahannya tak pas dipilih, bukan kemaslahatan yang diperoleh, apalagi berkah, melainkan persoalan. Bahkan, bisa menjadi masalah hukum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau