Pengasuh Ponpes Perut Bumi Dukung Poligami

Kompas.com - 27/10/2009, 17:36 WIB

TUBAN, KOMPAS.com — Pengasuh Pondok Pesantren Perut Bumi, Tuban, Kiai Subhan (72) berpoligami dengan menikahi dua wanita. Mereka hidup dalam satu rumah dengan sembilan anak hasil pernikahan. Kiai Subhan mendukung klub poligami karena dalam ajaran agama Islam poligami tidak dilarang.

Kiai Subhan mendukung klub poligami bukan lantaran dirinya beristri dua. Namun, dia beralasan, dalam ajaran Islam poligami tidak dilarang, bahkan diperbolehkan dengan batasan empat istri. Namun, untuk berpoligami perlu mendapatkan izin dari istri sebelumnya. "Untuk berpoligami, suami harus ada izin dari istri pertama. Poligami tidak dilarang dalam ajaran agama Islam asal bisa adil," katanya.

Kiai Subhan sendiri memperistri Hj Fatimah (53) dan Fitria (26). Fitria dinikahinya lima tahun lalu. Ketiganya hidup dalam satu rumah di Kompleks Ponpes Perut Bumi, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban.

Hj Fatimah, istri pertama Kiai Subhan, menyatakan ikhlas dan sadar mengizinkan suaminya menikah lagi. Selain menghindarkan dari zina, Fatimah percaya suaminya bisa bertindak adil dalam memimpin rumah tangga. "Saya mengizinkan suami menikah lagi untuk menghindari zina," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau