Nama Presiden Dibawa-bawa Cuma untuk "Nakut-nakuti"

Kompas.com - 28/10/2009, 13:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Ketua DPR RI Lukman Hakim Saefuddin mengatakan tak ada kecurigaan berlebihan yang muncul seiring dengan disebutnya nama Presiden SBY dalam rekaman yang diduga berisi rekayasa penghancuran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Lukman menilai bahwa nama SBY sengaja dibawa-bawa untuk menimbulkan kesan menakut-nakuti. Meskipun demikian, menurut Lukman, hal itu tidak terlalu menyinggung wibawa Presiden.

"Saya kira tidak terlalu karena kadang orang suka membawa-bawa nama presiden untuk menakut-nakuti orang dan pressure," ujar politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini di Gedung DPR RI, Rabu (28/10).

Walau begitu, Lukman mendorong Polri untuk bertindak tegas dalam menyelidiki kasus ini. Jika rekaman tersebut benar, maka pihak yang terlibat di dalamnya harus ditindak tanpa pilih-pilih dan harus dihukum seberat-beratnya supaya tidak timbul preseden buruk.

"Jika terbukti, maka yang bersangkutan harus diberi sanksi supaya tidak seenaknya orang mencatut nama presiden," tandasnya. Menurut Lukman, kejadian itu tentu berdampak pada munculnya ketidakpastian hukum dan kepercayaan di tengah masyarakat terhadap lembaga negara, seperti Polri, Kejaksaan, dan KPK.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau