YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna mempertanyakan keabsahan transkrip rekaman dugaan rekayasa kriminalisasi KPK. Ia juga menyatakan, kalaupun ada, rekaman itu mestinya menjadi bagian dari proses di pengadilan. Tidak dibuka kepada publik seperti yang beredar akhir-akhir ini.
Berikut adalah petikan wawancara Nanan dengan wartawan di Yogyakarta, Rabu (28/10):
Wartawan (W): Pelaksana Tugas Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) mengatakan, Polri ingin membuka kasus ini?
Nanan (N): Ya itu tadi, ingin tuh ingin pribadi, institusi, atau penyidik? Tergantung untuk apa itu? Itu kan sebetulnya bagian dari hasil penyelidikan KPK. Mau dimanfaatkan buat apa? Jadi polisi pun buat apa itu? Iya kan? Ya mari kita pisahkan kasus yang sedang berjalan, yang sedang diuji di pengadilan nanti dengan adanya informasi baru tentang hal-hal yang keluar dari kasus itu. Itu terpisah tentunya nantinya kan....
W: Penyidikan (atas tersangka pimpinan KPK Bibit S Rianto dan Chandra M Hamzah) sudah sampai tahap mana?
N: Sekarang justru itu kan "masalah". Tanda kutip ya...!! Artinya bahwa sedang dikembalikan oleh jaksa dan akan segera dilengkapi. Ya... harapan kita ya kekurangan-kekurangan harusnya diuji di pengadilan dong.. harusnya kan....
W: Penegasan Kapolri untuk kasus ini, beliau berani untuk bertanggung jawab kalau ada "teman polisi" yang terlibat?
N: Teman itu diketahui atau tidak diketahui itu kan yang mesti dibuktikan. Kan tidak ada apa pun rekayasa...itu. Pokoknya sekarang justru coba di pengadilan dibuktikan sekarang. Kalo ada kan terbuka di pengadilan. Jadi harusnya debatnya bukan di media. Ya... dipengadilan dong debatnya.... Silakan dibuktikan itu...!! Baru menjadi bagian lain.
W: Ada keinginan ketiga institusi bertemu terkait rekaman dugaan kriminalisasi Wakil Ketua KPK nonaktif?
N: Belum tentu.... Artinya.... (tdk dilanjutkan)
W: Rekaman sudah beredar ya Pak?
N: Ya makanya, siapa yang mengedarkannya? Harusnya..... seharusnya ditangkap dulu harusnya. Menurut saya kalo itu dikatakan rahasia... ya KPK siapa? (SONORA YOGYA/RICO)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang