JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia kini memiliki sistem pemantau kebakaran hutan yang baru yang interaktif untuk mencegah kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia dengan nama Indofire. Demikian disampaikan Deputi Penginderaan Jauh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Nur Hidayat, di Departemen Kehutanan, Jakarta, Kamis (29/10).
"Sistem ini bekerja sebagai mapping yang dapat memantau kebakaran melalui hot spot (titik api) yang tersebar di Indonesia dan menggunakan satelit MODIS (The Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) yang dapat melihat jarak dengan resolusi 500 meter," jelasnya. Ia menambahkan, resolusi MODIS jauh lebih tepat dan jelas dibanding dengan satelit pendahulunya, National Ocean Atmospheric Administration (NOAA) yang beresolusi 1.000 meter dari atas titik api.
Selanjutnya, hasil peninjauan sistem ini dapat dilihat dari website Firewatch Indonesia Project yang dipantau oleh Departemen Kehutanan. Ketika titik api muncul, Dephut akan segera bertindak dan menugaskan pos Manggala Agni yang bertugas di kawasan hutan yang terbakar.
"Untuk sementara, sistem ini dipasang di dua propinsi, yaitu Riau dan Kalimantan Tengah sebagai pilot project. Lalu, secara perlahan akan dikembangkan ke setiap kawasan hutan di Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Konservasi Kawasan Departemen Kehutanan Noor Hidayat menjelaskan, sistem Firewatch Indonesia ini dikembangkan atas kerjasama dengan Landgate, Badan Pemerintah Australia Barat yang menangani kehutanan. Proyek senilai 1,5 juta dollar AS ini diberikan Pemerintah Australia bagi Indonesia yang meliputi pelatihan dan software. Sedangkan, Pemerintah Indonesia menyediakan peralatan, website dan jaringan internet.
Secara teknis, sistem ini dilengkapi dengan pencatatan waktu, ketinggian, dan daerah yang ingin dimonitor. "Website ini dapat diakses oleh siapapun melalui www.lapan.go.id/indofire atau http://indofire.dephut.go.id, sehingga dikatakan interaktif," pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang