KOMPAS.com - Wajah Sabri (33) kini bisa kembali tersenyum setelah sejak lima hari terakhir dapat berusaha lagi sebagai pengendara ojek melayani rute selingkar Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. "Alhamdulillah, hari ini saya sudah dapat dua penumpang dengan ongkos Rp10 ribu per orang," katanya.
Sejak 1 Oktober 2009, lelaki bertubuh sedang dan sering memakai kopiah itu dirundung duka, karena menjadi salah satu korban tanah longsor yang melanda jorongnya (kampung) di pinggir Danau Maninjau, menyusul gempa berkekuatan 7,9 pada Skala Richter sehari sebelumnya.
Kampung yang dilanda longsor yakni Jorong Pandan, Galapuang, Batu Nanggai dan Muko Jalan. Di kampung-kampung itu ratusan rumah dan bangunan rusak berat serta roboh dan tertimbun tanah bercampur bebatuan dan kayu glondongan.
Selain itu, belasan rumah dan kendaraan diseret longsor hingga masuk ke dalam Danau Maninjau. Akibat gempa yang juga merusak bangunan dan tanah longsor hingga kini lebih 1.000 warga empat jorong itu masih mengungsi ke posko utama di lapangan Sungai Batang yang berada di jorong tetangga daerah itu, termasuk Sabri dan keluarganya.
Longsor menyusul gempa pada hari Rabu (30/9) itu, selain menyebabkan rumah dan kedai keluarga Sabri di Jorong Muko Jalan, rusak berat dan tidak bisa ditempati lagi, juga menyeret dan menimbun sepeda motor miliknya yang sehari-hari dijadikan alat untuk melaksanakan pekerjaannya sebagai pengendara motor ojek. "Sepeda motor yang tertimbun itu adalah tumpuan kami sekeluarga untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," kata Sabri.
Ia menceritakan, peristiwa yang dialaminya itu menjadi catatan dalam perjalanan hidup yang "mengerikan" untuk dikenang. Sabri mengatakan, pada Kamis (1/10) dirinya tetap melaksanakan aktivitas sebagai pengendara ojek, meski rumah dan kedainya telah rusak karena gempa.
"Saat itu hari mulai sore, saya mendapat penumpang dari Pasar Maninjau ke Jorong Batu Nanggai. Pada awalnya perjalanan biasa saja meski sebelumnya hujan turun sangat deras di selingkar Danau Maninjau," ujarnya menambahkan.
Akan tetapi, saat melintas di jalanan yang berada di sisi danau, yang di sebelah jalan lainnya tegak menjulang perbukitan leter W menjelang memasuki Jorong Galapuang, dia mendengar suara gemuruh seperti ada pesawat yang akan mendarat.
Lalu saat melihat ke arah depan jalanan yang lurus itu, dari kejauhan sekitar 200 meter nampak tanah berlumpur mengalir deras dan banyak pula bebatuan serta pohon-pohon kayu tumbang yang diseretnya dari atas perbukitan, dan mulai menimbun jalan serta menyapu bangunan yang ada di depannya. "Saya langsung menginjak rem, dan saat itu suara gemuruh makin keras, dan secara reflek saya melihat ke arah samping jalan dari sisi perbukitan, nampak lidah longsor bergerak cepat menuju kami," katanya.
Saat itu selain ada Sabri dan penumpangnya, juga ada satu minibus sedang melintas dengan posisi berada di belakang sepeda motor ojek tersebut. Mengetahui dalam jarak hanya beberapa puluh meter lagi lidah longsor akan menerjang, Sabri dan penumpangnya serta sopir mobil minibus langsung turun dan berlarian menyelamatkan diri ke arah danau, sementara sepeda motor kredit yang tinggal 10 bulan lagi pelunasan itu ditinggal tergeletak di badan jalan.
Dengan sekuat tenaga, tiga orang itu berpacu menuju pinggir danau melewati persawahan yang membatasi badan jalan dari pinggir danau. "Meski berlarian sekuatnya, tapi ujung paling depan longsor berupa tanah berlumpur telah mulai menyentuh kaki kami dari belakang dengan ketebalan sekitar 30 centimeter," kata Sabri, mengenang .
Sambil berlarian, Sabri mencoba untuk menyebut nama Allah, bahkan azan, mengharap ada keajaiban yang bisa menghentikan laju lidah longsor tersebut. Mereka terus dikejar dan berpacu dengan lumpur, bebatuan dan potongan kaayu-kayu glondongan. Lari pun dipercepat hingga mereka berhasil sampai di pinggir danau, dan langsung terjun menceburkan diri, sedangkan di belakang mereka lidah longsor bertambah tinggi sampai satu meter dan terhenti saat menyentuh permukaan air danau.
Setelah sampai di dalam danau mereka berenang menuju keramba apung dan berhasil naik keramba dan selamat dari sapuan tanah longsor itu. "Dari atas keramba, saya melihat ke arah sepeda motor yang saya tinggalkan, namun yang terlihat hanya tanah lumpur, bebatuan dan kayu-kayu besar. Mobil minibus sempat terlihat, namun telah terseret hingga puluhan meter dari posisi semula," ujarnya.
Mobil itu nampak tertimbun setengah badannya dan tersekat pada satu pohon di pinggir danau. Setelah longsor mereda, mereka kembali berenang ke tepian danau yang tidak terkena longsoran tanah, lalu berjalan kaki kembali ke pengungsian di Jorong Bubukan, sejauh lebih lima kilometer ketika hari mulai malam.
Dapat motor baru
Setelah kehilangan motornya, Sabri tidak bisa lagi melakukan aktivitas sebagai "tukang" ojek. Hari-hari dilewatinya di daerah pengungsian dan menyambung hidup dari bantuan pemerintah dan donatur lainnya.
Dalam kondisi itu, ia juga sempat memikirkan cara melunasi cicilan kredit yang tinggal 10 bulan, sedangkan sepeda motor yang menjadi andalan untuk mendapatkan uang telah terkubur tanah longsor. Hampir dua pekan Sabri tak bekerja, hingga akhirnya ada usulan keluarga dan warga lainnya untuk meminta keringanan kepada perusahaan "leasing" kredid FIF Cabang Bukittinggi, terkait kewajiban membayar angsuran utang yang masih tinggal 10 kali bayar.
Untuk memperkuat permohonan itu, Sabri meminta surat keterangan menjadi korban longsor dan kehilangan sepeda motor kepada Wali Jorong dan Wali Nagari (setingkat lurah) yang diperkuat keterangan dari empat saksi yang mengetahui kejadian itu. "Kemudian saya minta surat keterangan kepada pihak Polsek Tanjung Raya. Dengan bekal surat-surat keterangan itu, saya menemui pihak FIF untuk diberikan keringanan angsuran utang," katanya.
Pimpinan perusahaan itu dapat menerima permintaan Sabri, bahkan langsung mengganti motornya dengan yang baru, tanpa harus membayar uang muka, dan angsurannya pun dinyatakan hanya 10 kali, sesuai dengan kewajiban yang harus dilunasi terkait dengan kredit motor sebelumnya. "Saya sangat bersyukur. Saya dapat motor baru tanpa uang muka dan hanya diwajibkan melunasi cicilan 10 kali saja, sesuai cicilan sebelumnya yang belum dibayar," kata Sabri dengan suka cita.
Kini Sabri telah kembali mengojek untuk mencari nafkah bagi keluarganya dan ibunya yang sudah tua, dengan motor mengkilap produksi terbaru dari Jepang. Namun, senyum Sabri tidak secerah sebelum terjadi bencana, karena calon penumpangnya diperkirakan masih sedikit, karena sebagian rute ojek yang dilayaninya kini telah ditinggalkan penghuninya pascagempa dan longsor.