Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam itu, tetapi longsor mengakibatkan aktivitas sosial dan ekonomi warga setempat terhambat. Hasil pertanian warga, seperti salak, kelapa, kapulaga, dan gula merah tidak dapat dikirim ke pasar. Kepala Desa Panusupan Surismi, Sabtu, mengatakan, longsor terjadi setelah hujan deras sekitar pukul 17.00. Melihat longsoran tanah, dia menduga peristiwa itu dipicu oleh membesarnya debit air di sejumlah mata air yang ada di lereng bukit. Penyebab lainnya, beban lahan pertanian yang terdapat di atas bukit itu membuat lapisan tanah di bukit mudah longsor. Di beberapa bagian tanah di sekitar bukit itu juga labil. ”Kami menduga kombinasi dari volume air yang berlebih serta tanah yang labil menyebabkan bukit ini longsor,” kata Surismi. Hingga Sabtu sore, warga setempat belum dapat membuka jalan yang tertutup longsoran. Material longsoran berupa tanah yang bercampur dengan bebatuan besar menyulitkan pembersihan. Alat berat yang didatangkan pemerintah daerah juga baru datang Sabtu sore sehingga pembukaan ruas jalan itu baru dapat dikerjakan Minggu ini. Menurut salah seorang warga, Sri Ningsih (40), tidak ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk keluar dari desanya, selain melalui jalan yang tertimbun longsor itu. Jalur alternatif yang ada harus melalui Sungai Ideng selebar lebih dari 10 meter, tetapi arus airnya sangat deras. ”Sungai Ideng belum diberi jembatan penyeberangan. Kami tidak mungkin menyeberangi sungai itu karena arusnya sangat deras,” kata Sri Ningsih. Suwanto (58), seorang petani Panusupan, juga merasa dirugikan dengan kejadian longsor tersebut. Lebih dari satu kuintal salak dan kapulaga dari kebun miliknya tak dapat dikirim ke pasar. ”Semuanya menumpuk di rumah,” ujarnya. Menurut Suwanto, dukungan infrastruktur di desanya sangat minim. Jalan desa yang tertimbun longsor pun merupakan hasil swadaya masyarakat. ”Longsor sekarang ini membuat kami tidak bisa keluar. Kalau ada jembatan di Sungai Ideng, tentu aktivitas kami tidak akan terhambat,” katanya. Selain longsor, setidaknya ada sembilan rumah dan satu gedung madrasah ibtidaiyah di desa itu yang sebagian lantainya ambles. Lokasi bangunan rumah dan sekolah yang ambles terdapat di pinggir Sungai Ideng yang saat ini arusnya sangat deras. Hujan terjadi terus-menerus sepekan ini.