Longsor, 900 Orang Terisolasi

Kompas.com - 01/11/2009, 05:40 WIB
PURBALINGGA, KOMPAS.comSekitar 900 warga hingga Sabtu (31/10) sore masih terisolasi menyusul longsor yang menutup jalan di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah, Jumat petang. Warga harus berjalan kaki satu kilometer untuk tiba di rumah mereka.

Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam itu, tetapi longsor mengakibatkan aktivitas sosial dan ekonomi warga setempat terhambat. Hasil pertanian warga, seperti salak, kelapa, kapulaga, dan gula merah tidak dapat dikirim ke pasar.

Kepala Desa Panusupan Surismi, Sabtu, mengatakan, longsor terjadi setelah hujan deras sekitar pukul 17.00. Melihat longsoran tanah, dia menduga peristiwa itu dipicu oleh membesarnya debit air di sejumlah mata air yang ada di lereng bukit. Penyebab lainnya, beban lahan pertanian yang terdapat di atas bukit itu membuat lapisan tanah di bukit mudah longsor. Di beberapa bagian tanah di sekitar bukit itu juga labil.

”Kami menduga kombinasi dari volume air yang berlebih serta tanah yang labil menyebabkan bukit ini longsor,” kata Surismi.

Hingga Sabtu sore, warga setempat belum dapat membuka jalan yang tertutup longsoran. Material longsoran berupa tanah yang bercampur dengan bebatuan besar menyulitkan pembersihan. Alat berat yang didatangkan pemerintah daerah juga baru datang Sabtu sore sehingga pembukaan ruas jalan itu baru dapat dikerjakan Minggu ini.

Tak ada jembatan

Menurut salah seorang warga, Sri Ningsih (40), tidak ada jalur lain yang dapat ditempuh untuk keluar dari desanya, selain melalui jalan yang tertimbun longsor itu. Jalur alternatif yang ada harus melalui Sungai Ideng selebar lebih dari 10 meter, tetapi arus airnya sangat deras.

”Sungai Ideng belum diberi jembatan penyeberangan. Kami tidak mungkin menyeberangi sungai itu karena arusnya sangat deras,” kata Sri Ningsih.

Suwanto (58), seorang petani Panusupan, juga merasa dirugikan dengan kejadian longsor tersebut. Lebih dari satu kuintal salak dan kapulaga dari kebun miliknya tak dapat dikirim ke pasar. ”Semuanya menumpuk di rumah,” ujarnya.

Menurut Suwanto, dukungan infrastruktur di desanya sangat minim. Jalan desa yang tertimbun longsor pun merupakan hasil swadaya masyarakat. ”Longsor sekarang ini membuat kami tidak bisa keluar. Kalau ada jembatan di Sungai Ideng, tentu aktivitas kami tidak akan terhambat,” katanya.

Selain longsor, setidaknya ada sembilan rumah dan satu gedung madrasah ibtidaiyah di desa itu yang sebagian lantainya ambles. Lokasi bangunan rumah dan sekolah yang ambles terdapat di pinggir Sungai Ideng yang saat ini arusnya sangat deras. Hujan terjadi terus-menerus sepekan ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau