Gudang Ransum, Sehari Memasak 4.000 Kg Beras

Kompas.com - 02/11/2009, 11:10 WIB

KOTA Sawahlunto boleh jadi mungil, tapi tak berarti kota ini tak berisi apa-apa. Kota ini kaya pusaka yang terkait dengan pertambangan batubara. Kota tambang tua ini sudah melek pelestarian pusaka, setidaknya sejak kota ini dipimpin seorang Amran Nur, sang wali kota. Inventarisasi kekayaan pusaka Sawahlunto sudah dilakukan, kemudian satu per satu dihidupkan kembali. Intinya, bekas kota tambang batubara ini harus hidup lagi dengan memanfaatkan pusaka yang ada.

Sebagai kota tambang, berbagai peninggalan terkait usaha penambangan masih lengkap di sana. Selain lubang atau terowongan bekas tambang yang kini sudah mulai dihidupkan kembali menjadi wisata tambang, bekas dapur umum atau gudang ransum bisa menjadi benang merah kisah penambangan di  sini. Di kompleks dapur umum yang sangat luas dan terdiri atas beberapa bangunan seperti pabrik es batangan, rumah sakit, rumah kepala ransum, rumah karyawan, gudang persediaan padi dan bahan mentah lain, bahkan rumah jagal hewan.

Dari dapur umum inilah keperluan makan sehari-hari para pekerja tambang dan keluarga mereka, pasien, dll yang jumlahnya ribuan orang disiapkan. Maka jangan heran jika seluruh peralatan masak di sini berukuran besar. Setiap hari, 65 pikul beras atau nyaris 4.000 kg beras harus dimasak untuk dibagikan ke ribuan mulut yang terkait dengan pertambangan.

Bangunan dari tahun 1918 ini kini jadi Museum Gudang Ransum. Di sini masih terlihat dua tungku pembakaran berukuran besar bikinan Jerman tahun 1894. Pabrik yang membuat tungku itu adalah Rohrendampfkesselfabrik DR Patente No 13449 dan 42321. Selain cerobong atau tungku itu, ada pula periuk ukuran besar yang biasa digunakan memasak beras. Sejak tahun 1945 dapur umum  ini sudah tidak digunakan lagi untuk pegawai tambang tapi untuk tentara. Periode 1950-1960 bekas dapur umum ini digunakan sebagai kantor administrasi bagi perusahaan Tambang Batubara Ombilin.

Dari sini, napak tilas kehidupan tambang bisa dilanjutkan ke Museum Kereta Api Sawahlunto. Belanda membangun jalur kereta api dari Emma Haven (Pelabuhan Teluk Bayur) ke Sawahlunto sepanjang 95 km yang kelar dibangun pada 1894. Sedangkan Teluk Bayur dibikin 1982. Jalur kereta api itu tak lain sebagai sarana mengangkut hasil batubara ke luar Sawahlunto.

Tambang Batubara Ombilin tak bisa terpisah dari sejarah pembangunan jalur kereta api. Pada saat pertambangan dimulai, 1891-1892,  jalur kereta api pertama dibangun dari Pulau Air (Padang) ke Padang Panjang. Dari Padang Panjang dilanjutkan ke Bukittinggi,  kemudian dari Padang Panjang ke Solok. Solok-Muara Kalaban dan Padang-Teluk Bayur kelar pada 1892 dan kemudian Muara Kalaban-Sawahlunto selesai 1894. Jalur Muara Kalaban-Sawahlunto ini harus menembus bukit sehingga terowongan sepanjang sekitar 900 meter harus dibikin sebelum jarak antarkota sepanjang dua kilometer itu bisa terhubung.

Tak jauh dari Museum Kereta Api Sawahlunto, akan terlihat semacam tugu tinggi di mana tugu itu dilengkapi dengan Masjid Agung Nurul Islam. Sebelum menjadi masjid, kawasan itu adalah kompleks PLTU yang dibangun pada 1894. Pada 1924 bangunan itu tak lagi digunakan sebagai PLTU dan pada 1930 areal itu kemudian dibangun masjid.

Urusan penginapan, di kota ini ada hotel tua dari tahun 1918, namanya Hotel Ombilin Heritage. Tentu saja hotel ini masih perlu sentuhan pemugaran agar tak terkesan menyeramkan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau