MARRAKESH, KOMPAS.com - Negara-negara Arab kecewa atas gagalnya pembicaraan AS-Israel pekan lalu menghasilkan tekanan lebih besar bagi pembekuan pembangunan permukiman. "Saya memberitahu anda bahwa kami semua, termasuk Arab Saudi, termasuk Mesir, sangat kecewa dengan semua hasil tersebut, dengan kenyataan bahwa Israel dapat lolos dari apa saja tanpa ada sikap tegas bahwa ini tak dapat dilakukan," kata Amr Moussa, Sekretaris Jenderal Liga Arab kepada wartawan di sisi satu konferensi di Marokko, Senin (2/11).
Ketika ditanya apakah upaya Presiden AS Barack Obama untuk memulai kembali proses perdamaian Palestina-Israel telah gagal, ia mengatakan, "Saya benar-benar sangat takut bahwa kita sebentar lagi menyaksikan kegagalan. Tapi saya masih menunggu sampai kami mengadakan pertemuan dan memutuskan apa yang akan dilakukan. Namun kegagalan menyelimuti semua kondisi."
Pada Minggu lalu, Pemerintah Otonomi Nasional Palestina (PNA) mendesak pemerintah AS agar mempertahankan kredibilitasnya sebagai penjaga proses perdamaian Palestina-Israel, yang macet. Seruan tersebut disampaikan setelah Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mendukung tuntutan Israel untuk melanjutkan perundingan dengan Palestina tanpa prasyarat.
"Pernyataan Nyonya Clinton adalah perubahan dalam sikap Amerika," kata Nabil Abu Rudeinah, juru bicara bagi Presiden Palestina Mahmoud Abbas. "Jika pemerintah AS dan masyarakat internasional tertarik untuk melanjutkan perundingan perdamaian, pandangan dan pendirian semacam itu harus diubah," kata Abu Rudeinah kepada radio Voice of Palestine.
Pihak Palestina ingin Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat Sungai Jordan dan Jerusalem Timur, sementara Hillary mengatakan perundingan harus dilanjutkan sesegera mungkin tanpa prasyarat. Pada Sabtu (31/10), Hillary bertemu dengan Abbas --yang menolak tawaran AS untuk memulai kembali pembicaraan perdamaian sementara Israel melanjutkan pembangunan permukiman di Jerusalem Timur.
Tawaran itu juga memberi Israel hak untuk membangun instalasi umum di permukiman yang sudah ada di Tepi Barat dan menyelesaikan satu proyek pembangunan 3.000 rumah di wilayah pendudukan Tepi Israel. "Tak mungkin dan tak disambut bahwa Israel diberi pembenaran dan dalih untuk melanjutkan kegiatan permukiman; mereka harus dihentikan sebelum perdebatan apa pun mengenai dilanjutkannya perundingan," kata Abu Rudeinah.
Sementara itu, pemimpin perunding Palestina Saeb Erakat mengatakan pernyataan Hillary memicu keprihatinan di kalangan pimpinan Palestina. "Kami telah meminta penjelasan dari Washington mengenai perubahan dalam kebijakannya sehubungan dengan permukiman," kata Erakat kepada wartawan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang