Petikan Pembicaraan Orang yang Diduga Anggodo dan Wisnu

Kompas.com - 03/11/2009, 12:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mahkamah Konstitusi (MK) dalam sidang yang terbuka untuk umum di Jakarta, Selasa (3/11), memutarkan rekaman pembicaraan antara orang yang diduga Anggodo (AGD) dan orang yang diduga mantan Jaksa Agung Muda Intelijen, Wisnu Subroto (WS).

Dalam rekaman pembicaraan terungkap ada upaya dari keduanya untuk membuat seseorang bernama Edi untuk mau mengaku telah menyerahkan uang kepada pimpinan KPK. Pada kenyataannya, Edi menolak untuk mengakui hal itu.

Berikut petikan pembicaraan yang direkam pada 30 Juli 2009 pukul 19.13 WIB.

AGD : Yang penting kalo dia tidak mengaku itu susah kita.
WS : Dia itu menurut cerita cuma ngawal dari luar, karena di CCTV pun enggak ada tampang saya. Di buku tamu pun enggak ada.
AGD : Bukan soal ke sana Pak, yang dia memerintahkan, kan nge-deal dulu Pak, abis itu kan dia.
WS : Saya udah telepon Kosasih supaya di-clear-kan.

Rekaman itu juga membeberkan upaya keduanya untuk membuat Edi Sumarsono setuju dengan skenario yang telah dibuat.

AGD : Yang saya penting, dia menyatakan waktu itu supaya membayar Chandra atas perintah Antasari.

WS : Nah itu.

AGD : Itu pun Bapak juga denger, saya lapor Bapak juga kan.

WS : Wong waktu malam si itu dipeluk anu tak tanya, kok situ bisa ngomong. Si Ari itu dipeluk karena teriak-teriak, dipeluk sama Chandra itu kejadian....

AGD : Bohong, enggak ada kejadian, kamuflase saja.

WS : Enggak ada memang, jadi dia cuma dikasih tau disuruh Ari gitu. Dia curiga duite dimakan Ari.

AGD : Bukan soal Arinya Pak, dia cerita pada waktu ke KPK dia yang diminta Ari kalo ditanya saya bilang Edi ada di situ, diwalik sama dia bahwa Ari yang suruh dia ngomong dia ada. Kalo itu saya enggak menjadi masalah Pak, itu saya suruh.

WS : Pokoknya yang kunci-kuncinya itu saya udah ngomong sama Kosasih. Kalo tidak ada lagi ... nyampe.. ya berarti ya enggak bisa kasus ini gitu.

AGD : Yang penting buat saya Pak, si Ari ini, kan dia ngurusi si Ade Rahardja segala. Ujug-ujug dia dapet perintah nyerahken ke Chandra itu siapa Pak? Kan enggak nyambung Pak?

WS : Iya coba nanti Kosasih dah tau.

AGD : Saya juga pamit sama Bapak, ini kali ya mesti membantu Anggodo tho Pak?

WS : Ke mana?

AGD : Ya urusan ini Pak, supaya dia ngaku dong.

WS : Lho iyaa, dia misalnya bilang saya enggak ngomong gitu ya susah ngotot. Cuma masalahnya kan enggak kena gitu. Sampe ada yang Toni, kalo Toni ada pasti selesai kata dia. Toni, dikeluarkan, karena Pak Susno juga sudah tau, ada. Kosasih juga waktu ketemu terakhir sebelum pulang Surabaya dipanggil  juga cerita Pak Susno, Pak Susno juga cerita ke saya. Hanya itu aja kata dia.

AGD : Tapi Susno udah tau Pak, Toni itu Anggodo Pak.

WS : Katanya enggak kok. Pak Edi udah tak tanya, Toni itu Anggodo? Enggak tak ada karena saya dikasih tau oleh Pak Susno kemarin dia dipanggil. Kalo itu ada nyampe ke orang-orang ini.

AGD : Pak Wisnu kan percaya saya soal Toni, kan saya ngomong ke Bapak.

WS : Tapi ada Pak Susno apa..waktu di Singapura si Anggodo ada tapi ini telp ke Toni si Anggoro ini kan perlu di-clear-kan. Cuma masalahnya kenapa mesti didebatken gini.

AGD : Bukan Pak, yg saya mau itu dia merintahken nyerahken Chandra yang Bapak juga tau kan, karena kalo enggak ada yang merintah Chandra Pak, enggak gathuk (klop) uang itu lho.

WS : Memang keseluruhan tetep keterangan itu, kalo Edi enggak ngaku ya biarin yang penting Ari sama Anggodo kan cerita itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau