BANTUL, KOMPAS.com — Untuk mencegah dampak longsor yang kemungkinan terjadi pada musim hujan nanti, Pemerintah Kabupaten Bantul akan merelokasi 313 keluarga yang tersebar di daerah-daerah rawan longsor. Mereka akan dipindahkan ke lahan kas desa yang letaknya aman dan diberi bantuan pembangunan rumah sebesar Rp 20 juta.
Ada tiga desa yang dinilai rawan longsor, yakni Sri Martani Piyungan (95 KK), Wukirsari Imogiri (156 KK), dan Wonolelo Pleret (62 KK). Kami sedang mengecek lokasinya. "Diusahakan, mereka bisa pindah sebelum musim hujan karena longsor biasanya banyak terjadi pada awal musim hujan akibat tanah yang merekah dan tingginya intensitas hujan," kata Agus Joko Sunarya, Koordinator Kebencanaan Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Rabu (4/11).
Menurutnya, sebagian besar warga di tiga desa tersebut tinggal di lereng-lereng perbukitan rawan longsor. Tahun lalu, sejumlah rumah hancur karena diterjang longsor dari atas perbukitan. Masyarakat diharapkan bisa menerima kebijakan relokasi tersebut karena tujuannya adalah mencegah kerugian, baik korban jiwa, maupun harta benda.
Di lahan kas desa, setiap keluarga akan menerima dana bantuan senilai Rp 20 juta untuk membangun rumah baru. Dana tersebut berasal dari bantuan Java Reconstruction Fund (JRF). "Kalau hanya mengandalkan dana, maka mungkin tidak cukup. Masyarakat harus bisa memanfaatkan bahan bangunan bekas rumah mereka untuk menekan biaya," katanya.
Terkait dengan bahaya longsor, Kantor Kesbanglinmas menyediakan layanan piket 24 jam sehingga masyarakat bisa langsung menyampaikan informasi bila bencana longsor terjadi. "Begitu ada pemberitahuan, kami akan langsung ke lokasi untuk menyalurkan bantuan sembako bagi para korban," kata Kepala Kesbanglinmas Bantul Djundan.
Secara terpisah, Kepala Desa Wukirsari Bayu Bintoro mengimbau masyarakatnya, terutama yang tinggal di lereng bukit untuk mewaspadai longsor selama musim hujan. Dari 16 dusun, sebanyak 6 dusun di antaranya termasuk daerah rawan longsor. "Tahun lalu ada beberapa rumah yang hancur. Saya tidak mau tahun ini terulang kembali. Kalau bisa, sementara mengungsi dulu," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang