JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam negosiasi pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekkah, Pemerintah Indonesia perlu lebih keras agar secepatnya pemilik pemondokan melengkapi persyaratan sesuai yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi, seperti tangga darurat. Bila perlu, pemilik pemondokan diancam.
Negosiasi dengan cara menekan dan mengancam telah dipraktikkan Daerah Kerja Mekkah (perwakilan Indonesia) ketika mengusahakan pemondokan haji di Mekkah.
”Saya harus keras kepada pemilik pemondokan agar mereka menyiapkan kelengkapan bagi jemaah haji kita,” kata Kepala Daerah Kerja Mekkah Subakin Abdul Muthalib yang dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (5/11) malam.
Sikap keras tersebut diperlukan karena ada beberapa pemilik rumah yang tidak segera memenuhi kelengkapan tersebut. Daerah Kerja Mekkah segera mencari rumah baru. ”Misalnya, kami dapat rumah di ring I yang jaraknya sekitar 50 meter. Kami dapat rumah-rumah yang berkualitas,” katanya.
Subakin mengatakan, pihaknya juga meminta pemilik rumah membereskan rumah mereka agar lebih pantas. ”Ada rumah yang pernah digunakan untuk kantor sehingga banyak peralatan di suatu ruang. Kami minta (barang-barang) itu dipindahkan karena luas ruang menjadi berkurang,” katanya.
Menurut Subakin, hal itu dilakukan untuk kenyamanan jemaah haji. ”Yang telah dipersiapkan baik saja bisa ada keluhan. Kami tak ingin ini menimbulkan masalah,” ujarnya.
Kamis kemarin, cuaca di Mekkah cukup bersahabat dengan suhu udara 20-31 derajat celsius. ”Cuacanya sama dengan di Indonesia. Juga tidak ada hujan, tak seperti minggu-minggu silam,” kata Subakin.
Sampai kemarin, jemaah yang tiba di Mekkah segera menjalankan ibadah di Masjidil Haram dan melakukan tawaf qudum. Untuk sarana transportasi pergi-pulang dari Masjidil Haram disiapkan 38 kendaraan.
”Tergolong lancar, hanya saja ada kepadatan di sekitar Masjidil Haram karena semua jemaah menuju ke sana,” katanya.
Di Mekkah, hingga kemarin tercatat 16 orang menderita sakit yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia dan dua orang dirawat di rumah sakit milik Pemerintah Arab Saudi. Jemaah yang sakit umumnya karena usia tua, jantung, atau pernapasan.
Gangguan jiwa
Delapan anggota jemaah haji terpaksa dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia di Arab Saudi karena mengalami gangguan kejiwaan. Umumnya mereka menjadi pemurung atau pemarah. Hal itu diduga karena mereka mengalami tekanan saat berpindah tempat.
Ketua Koordinator Penyelenggara Kesehatan Haji Indonesia dokter Barita Sitompul saat dihubungi dari Jakarta, Kamis, mengatakan, jumlah jemaah yang mengalami gangguan jiwa menurun 30 persen dari tahun sebelumnya. ”Jumlahnya turun dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu pada hari yang sama ada 12 orang yang dirawat, sekarang ada 8 orang,” katanya.
Jemaah yang mengalami gangguan jiwa itu umumnya sudah memiliki riwayat atau modal tekanan kejiwaan sejak di Tanah Air. Mereka menjadi lebih tertekan karena mengalami pemindahan tempat dengan berbagai macam perbedaan, seperti perbedaan waktu, kebiasaan, dan suhu udara.
Penyakit terbanyak yang diderita jemaah haji Indonesia adalah infeksi saluran pernapasan, flu, dan batuk. (SSD/NTA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang