Negosiasi Pemondokan Perlu Keras

Kompas.com - 06/11/2009, 05:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam negosiasi pemondokan jemaah haji Indonesia di Mekkah, Pemerintah Indonesia perlu lebih keras agar secepatnya pemilik pemondokan melengkapi persyaratan sesuai yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi, seperti tangga darurat. Bila perlu, pemilik pemondokan diancam.

Negosiasi dengan cara menekan dan mengancam telah dipraktikkan Daerah Kerja Mekkah (perwakilan Indonesia) ketika mengusahakan pemondokan haji di Mekkah.

”Saya harus keras kepada pemilik pemondokan agar mereka menyiapkan kelengkapan bagi jemaah haji kita,” kata Kepala Daerah Kerja Mekkah Subakin Abdul Muthalib yang dihubungi Kompas dari Jakarta, Kamis (5/11) malam.

Sikap keras tersebut diperlukan karena ada beberapa pemilik rumah yang tidak segera memenuhi kelengkapan tersebut. Daerah Kerja Mekkah segera mencari rumah baru. ”Misalnya, kami dapat rumah di ring I yang jaraknya sekitar 50 meter. Kami dapat rumah-rumah yang berkualitas,” katanya.

Subakin mengatakan, pihaknya juga meminta pemilik rumah membereskan rumah mereka agar lebih pantas. ”Ada rumah yang pernah digunakan untuk kantor sehingga banyak peralatan di suatu ruang. Kami minta (barang-barang) itu dipindahkan karena luas ruang menjadi berkurang,” katanya.

Menurut Subakin, hal itu dilakukan untuk kenyamanan jemaah haji. ”Yang telah dipersiapkan baik saja bisa ada keluhan. Kami tak ingin ini menimbulkan masalah,” ujarnya.

Kamis kemarin, cuaca di Mekkah cukup bersahabat dengan suhu udara 20-31 derajat celsius. ”Cuacanya sama dengan di Indonesia. Juga tidak ada hujan, tak seperti minggu-minggu silam,” kata Subakin.

Sampai kemarin, jemaah yang tiba di Mekkah segera menjalankan ibadah di Masjidil Haram dan melakukan tawaf qudum. Untuk sarana transportasi pergi-pulang dari Masjidil Haram disiapkan 38 kendaraan.

”Tergolong lancar, hanya saja ada kepadatan di sekitar Masjidil Haram karena semua jemaah menuju ke sana,” katanya.

Di Mekkah, hingga kemarin tercatat 16 orang menderita sakit yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia dan dua orang dirawat di rumah sakit milik Pemerintah Arab Saudi. Jemaah yang sakit umumnya karena usia tua, jantung, atau pernapasan.

Gangguan jiwa

Delapan anggota jemaah haji terpaksa dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia di Arab Saudi karena mengalami gangguan kejiwaan. Umumnya mereka menjadi pemurung atau pemarah. Hal itu diduga karena mereka mengalami tekanan saat berpindah tempat.

Ketua Koordinator Penyelenggara Kesehatan Haji Indonesia dokter Barita Sitompul saat dihubungi dari Jakarta, Kamis, mengatakan, jumlah jemaah yang mengalami gangguan jiwa menurun 30 persen dari tahun sebelumnya. ”Jumlahnya turun dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu pada hari yang sama ada 12 orang yang dirawat, sekarang ada 8 orang,” katanya.

Jemaah yang mengalami gangguan jiwa itu umumnya sudah memiliki riwayat atau modal tekanan kejiwaan sejak di Tanah Air. Mereka menjadi lebih tertekan karena mengalami pemindahan tempat dengan berbagai macam perbedaan, seperti perbedaan waktu, kebiasaan, dan suhu udara.

Penyakit terbanyak yang diderita jemaah haji Indonesia adalah infeksi saluran pernapasan, flu, dan batuk. (SSD/NTA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau