Wajah Jaksa Agung Pun Tegang

Kompas.com - 09/11/2009, 21:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Wajah Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri tampak tegang seusai mengikuti rapat tertutup bersama Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Jaksa Agung Hendarman Supandji di Kantor Menko Polhukam, Senin (9/11) malam. Ketegangan serupa juga tampak ketika dirinya kembali keluar dari Kantor Menko Polhukam.

Kapolri yang sudah meninggalkan Kantor Menko Polhukam sekitar pukul 20.10 kembali lagi ke tempat rapat setengah jam kemudian. Di dalam, Kapolri bertemu kembali dengan Jaksa Agung dan Menko Polhukam. Belum sampai 15 menit, ketiganya muncul secara berurutan. Berbeda dengan raut wajah Djoko Suyanto yang cukup tenang, wajah Jaksa Agung dan Kapolri tampak tegang. Bahkan, Kapolri menolak untuk memberikan keterangan dan mengisyaratkan enggan didekati dengan mengibaskan tangannya.

Tidak diketahui apa yang dibicarakan ketiganya dalam jangka waktu lima menit. Namun, setelah itu Djoko menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Istana.

Seperti diketahui sebelumnya, Tim Delapan telah mengeluarkan rekomendasi sementara yang menyatakan bahwa bukti Polri untuk kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah tak cukup kuat. Sementara itu, Kejagung malam ini akan mengumumkan keputusan P-21 untuk kasus Bibit dan Chandra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau