DKI Bakal Bangun Pabrik Air Bersih Senilai Rp 3 T

Kompas.com - 13/11/2009, 10:50 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Pemerintah DKI Jakarta tengah mematangkan rencana pembangunan pabrik penghasil air bersih di Jatiluhur, Jawa Barat dengan nilai proyek sekitar Rp 3 triliun. Proyek ini diharapkan akan meringankan proses produksi air bersih yang selama ini sangat tergantung pada pasokan air dari Kalimalang yang semakin tercemar.

"Feasibility Study (studi kelayakan) atas proyek ini akan kami lakukan mulai tahun 2010," ujar
Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, Fauzi Bowo di Singapura, Kamis (12/11), saat berbicara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Infrastruktur yang digelar Bank Dunia, pemerintah Singapura, dan Financial Times. Pertemuan ini digelar dalam kaitan Pertemuan para pemimpin 21 anggota Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) ke-20.

Menurut Fauzi, pekerjaan utama dalam proyek ini adalah pembangunan jaringan pipa yang akan mengangkut air bersih dari waduk Jatiluhur ke Jakarta. Jarak pipanisasi diperkirakan akan mencapai 70 kilometer. Atas dasar itu, DKI Jakarta juga menawarkan pasokan air bersih tersebut kepada kabupaten atau kota yang akan dilewati oleh pipa tersebut, seperti Bekasi dan Karawang. "Oleh karena ini kami menawarkan proyek ini kepada industri pipa yang akan menjadi bagian dominan dari pembangunan fasilitas air bersih ini," ujarnya.

Mekanisme produksi dan pemasaran air bersih ini akan berbeda dengan yang sudah dilakukan oleh Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Jakarta saat ini. Dengan pasokan air bersih dari Jatiluhur, PDAM tidak perlu memproduksi sendiri air bersihnya,. PDAM hanya perlu mendistribusikan dan memasarkannya.

Dengan demikian, PDAM akan memperoleh keuntungan berupa beban yang lebih ringan karena tidak perlu memproduksi sendiri air bersihnya. Adapun proses produksi air bersihnya sendiri akan diserahkan kepada perusahaan lain. PDAM hanya akan membeli air curah yang sudah siap konsumsi.

"Namun kami tidak akan melepas 100 persen kepemilikan perusahaan tersebut, sehingga pemerintah daerah akan tetap memiliki saham, sehingga masalah harga dan tarif masih bisa dikendalikan, karena ini masalah kebutuhan masyarakat banyak," ujar Fauzi.

Dana yang akan digunakan untuk membangun fasilitas pengolahan air bersih ini berasal dari APBD dan sebagian besar dari BUMD. "Kami sedang menghitung-hitung kebutuhan dana yang perlu ditutup dari BUMD," kata Fauzi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau