NUNING SETIYADI (38) melangkahkan kaki dengan ringan. Jumat (13/11) siang, ia kembali mendapatkan suntikan dana segar. Jumlahnya memang tidak besar, hanya Rp 50 ribu. Tetapi, baginya, pinjaman ini sangat berharga untuk kelangsungan usahanya.
Lumayan, buat modal beli cat sablon, tutur warga RT 04 / RW 01 Kelurahan Babakan Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, di bengkel kerjanya berukuran 3 x 2,5 meter yang sangat sederhana. Di bengkel ini, terdapat pula sebuah dipan untuk tempat tidur.
Dengan reputasi sebagai mantan berandalan, tidak mudah bagi Cuning-demikian ia biasa disapa, untuk mulai membangun usaha mandiri. Apalagi, mencari kredit pinjaman. Lalu, dari mana ia bisa memulai usaha dan mendapatkan dana pinjaman?
Dari sampah, tutur mantan pengguna psikotrapika ini. Barangkali hanya di RT 04 / RW 01 inilah terjadi retribusi sampah dikoordinir warga dan kemudian dijadikan sumber dana untuk berbagai kegiatan warga, termasuk fasilitas pinjaman kredit usaha kecil menengah.
Lantas, prosedurnya? Gampang. Gak perlu pakai agunan dan syarat segala macam. Mau nyicil Rp 1.000 atau Rp 5.000 juga bebas. Asalkan, ada konsensus dan kesanggupan, tutur Reggi Kayong Munggaran (26), aktivis dari Common Room yang mencetuskan konsep pemb iayaan yang dinamai Asmas (Asuransi Masyarakat) itu.
Tidak pakai bunga-bungaan segala. Kami bukan bank. Ya paling-paling bunganya ganti traktir kopi aja, tutur Sandy Sapuandy (28), pengurus RT 04 / RW O1 Babakan Asih. Kalau mau cari bunga-bunga, di sini mah sudah banyak, ucap Ahmad Ruyani (44), Ketua RT 04 / RW 01 Babakan Asih berkelakar.
Dana Asmas tidak hanya digunakan untuk modal pinjaman warga, melainkan juga bantuan cuma-cuma untuk warga yang sakit dan butuh dana berobat. Baru-baru ini, isteri Ketua RW setempat mendapatkan bantuan hingga Rp 1 juta dari dana ini untuk cuci darah.
Dana Asmas diperoleh dari retribusi sampah mingguan sebesar Rp 2.000 per rumah tangga. Retribusi sampah menjadi bagian pula dari gerakan kesadaran lingkungan agar warga di perkampungan yang dahulunya kumuh ini tidak lagi membuang sampah ke Kali Citepus yang membelah kampung mereka.
Menolak bantuan pemerintah
Menurut Reggi yang juga mantan aktivis Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Bandung, dana Asmas hanya bagian dari gerakan nyata kesadaran dan kemandirian warga. Masyarakat bosan dengan program-program buatan pem erintah yang tidak hanya terkesan ilusi , melainkan juga dipenuhi tetek bengek birokrasi yang menyulitkan.
Mengandalkan dana askeskin repot. Dilempar ke sana sini, tutur Ipan Garniwa (27), pengurus RT 04 Babakan Asih lainnya, memberi contoh. Sampai-sampai, masyarakat setempat menolak sejumlah program bantuan pemerintah seperti PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri dan Bawaku Makmur.
Dana PNPM kami tolak karena tidak sesuai kebutuhan. Penggunaan dana hanya bisa untuk beli bahan bangunan semen dan semacamnya. Padahal, yang kami butuhkan saat ini adalah paving block, tutur Reggi mengungkapkan alasannya.
Gerakan kemandirian yang dilakukan masyarakat RT 04 Babakan Asih tidak sebatas itu. Bersama-sama, dengan dana yang dikumpulkan secara kolektif, mereka kompak melakukan kegiatan pro lingkungan hidup macam membuat sumur resapan di sekeliling kampung.
Kekuatan ada pada masyarakat, bukan pada pemimpin, demikian bunyi coretan di dinding sebuah gang sempit dekat perkampungan RT 04 / RW 01 Babakan Asih yang menjadi pemicu semangat gerakan warga ini. (Yulvianus Harjono)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang