Pemimpin Asia Pasifik Bertemu Obama

Kompas.com - 15/11/2009, 05:57 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Meski tiba terlambat dari Jepang, Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Sabtu (14/11) malam, ikut bergabung dalam jamuan makan, mengenakan baju warna-warni yang dirancang khusus bagi tetamu pemimpin 21 anggota Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau APEC.

Pada pemimpin lain dibawa berkendara ke gedung kesenian Esplanade dengan rickshaw, sejenis becak tua yang dikayuh manusia dengan caping (tutup kepala) lebar.

Banyak tetamu VIP, termasuk Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva dan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, tersenyum lebar ketika dibawa berkendara pelan-pelan.

Presiden Cile Michelle Bachelet tampak berbincang hangat melalui telepon genggam ketika dibawa berkendara dengan rickshaw melalui banyak orang.

Seperti juga tradisi di pertemuan puncak tahunan APEC, para pemimpin negara Asia Pasifik ini memang diminta mengenakan pakaian hasil budaya tuan rumah, yang kali ini dirancang perancang Singapura terkemuka, Wykidd Song.

Para pemimpin lelaki mengenakan baju linen lengan panjang dengan kerah mandarin, bergaya campuran China, Melayu, dan India—budaya yang memang ada di Singapura.

Obama menjadi sorotan

Mengawali kunjungannya ke Asia kali ini, Presiden AS Barack Obama memilih Jepang sebagai tempat pertamanya berpidato.

Ada kemungkinan, menurut sejumlah pengamat, Obama akan menjadi sorotan sehubungan dengan kebijakan ekonominya yang cenderung proteksionis.

”Presiden Obama tampaknya akan menghadapi tentangan politis karena melawan (arus) perdagangan bebas,” komentar Presiden Meksiko Felipe Calderon di Singapura. Komentarnya ini diungkapkan berkaitan dengan keraguan pemerintahan Obama untuk secara penuh mengimplementasikan Pakta NFTA bagi Amerika Utara.

”Paradoks yang kejam dalam ekonomi global bahwa apa yang membunuh perusahaan-perusahaan adalah inefisiensi serta kurangnya kompetisi. Maka, proteksionisme itu membunuh perusahaan-perusahaan di Amerika Utara,” ujarnya.

Menurut Calderon, tak hanya Pemerintah AS (bersikap cenderung proteksionis). Bahkan, Kongres AS juga cenderung tak sejalan dengan pasar bebas, terutama setelah AS diterpa krisis ekonomi terburuk setelah Perang Dunia II.

Sementara itu, para pemimpin dunia—termasuk pula Direktur Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, sudah mengingatkan di Singapura bahwa proteksionisme bisa menghambat pemulihan ekonomi dari terpaan krisis.

Meski demikian, ada juga sedikit kelegaan ketika di Jepang sehari sebelumnya Obama mengungkapkan bahwa AS akan menjalin kemitraan dengan negara- negara Trans-Pasifik (TPP). Zona perdagangan TPP ini meliputi AS, Brunei, Cile, Selandia Baru, dan Singapura. Australia, Peru, dan Vietnam dikabarkan akan menyusul bergabung. (AP/AFP/Reuters/SHA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau