Presiden Obama Ingin Bernostalgia

Kompas.com - 16/11/2009, 05:42 WIB
 
 

SINGAPURA, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mengungkapkan keinginannya untuk bernostalgia ke tempat tinggalnya selama berada di Jakarta tahun 1967 hingga 1971. Ia berniat membawa serta istrinya, Michelle, dan dua putrinya, Malia dan Natasha, saat bernostalgia itu.

”Saya akan berkunjung ke Indonesia tahun depan (2010) atas undangan Presiden Yudhoyono dan saya berharap Michelle dan anak-anak saya dapat berkunjung ke tempat-tempat saya dulu,” ujar Presiden Obama seusai pertemuan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Shangri-La, Singapura, Minggu (15/11) petang.

Pertemuan dua kepala negara ini berlangsung di sela-sela pertemuan puncak pemimpin 21 anggota forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik di Singapura.

Dalam pembicaraan sekitar 30 menit itu, Presiden Yudhoyono antara lain didampingi Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Perindustrian MS Hidayat, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan, dan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso.

Sementara itu, Presiden Obama didamping Menteri Luar Negeri Hillary Clinton, Menteri Perdagangan Gary Locke, dan sejumlah pejabat lain.

Presiden Obama, akrab dipanggil Barry, pernah belajar di SD Asisi, Tebet, Jakarta Selatan, dan SD Negeri I di Jalan Besuki (Menteng), Jakarta Pusat. Obama berada di Jakarta setelah Lolo Soetoro, lelaki Indonesia, menikahi Stanley Ann Dunham, ibu kandung Presiden Obama.

Lolo berjumpa dengan Dunham di University of Hawaii, Honolulu, AS. Mereka berdua penerima beasiswa universitas yang berlokasi di bukit Manoa yang hijau. Kala itu Dunham adalah seorang janda yang bersama orangtuanya merawat Obama Jr yang masih balita.

Lolo-Dunham, yang menikah di Honolulu, lalu membawa Obama Jr yang kelahiran 4 Agustus 1961 ke Jakarta tahun 1967. Ketika itu Lolo, lulusan Fakultas Geografi Universitas Gadjah mada, bekerja pada Dinas Topografi Angkatan Darat. Adapun Dunham melakukan penelitian soal pemberdayaan ekonomi perempuan miskin di Jawa Tengah.

Namun, Lolo dan Dunham bercerai setelah memiliki Maya Soetoro yang kelahiran 1971. Tahun 1985, Maya dipindahkan ibunya ke Honolulu untuk menetap bersama Obama Jr di bawah asuhan kakek-nenek dari pihak ibu.

Komitmen kemitraan

Presiden Yudhoyono dan Presiden Obama dalam pembicaraan bilateral yang pertama mereka menegaskan komitmen untuk meningkatkan hubungan Indonesia-AS melalui kemitraan komprehensif yang diharapkan akan ditandatangani pada 2010.

Dalam pernyataan kepada pers di akhir pertemuan itu, Presiden Obama mengharapkan Indonesia terus berperan di ASEAN dan kelompok negara-negara G-20. Indonesia memegang posisi penting sebagai salah satu negara demokrasi terbesar dan negara Islam terbesar di dunia. ”Indonesia mempunyai peran besar dan menjadi teladan dalam pembangunan demokrasi dan hubungan antaragama,” ujarnya.

Presiden Yudhoyono menyampaikan bahwa Presiden Obama dipandang sebagai sahabat dan mendapat penghargaan luas dari masyarakat Indonesia. Presiden Yudhoyono juga menyampaikan apresiasi atas pendekatan baru yang diterapkan Presiden Obama, terutama dalam merangkul dunia Islam.

Kedua kepala negara juga mengungkapkan harapan mereka untuk meningkatkan hubungan bilateral ke tingkat yang lebih tinggi melalui kemitraan komprehensif. Kemitraan akan mewadahi kerja sama di bidang perdagangan, investasi, teknologi dan sains, ketahanan pangan dan energi, khususnya energi terbarukan, penanganan penyakit menular, antiterorisme, pertahanan, dan pendidikan.

Presiden Yudhoyono dan Presiden Obama juga mendiskusikan tantangan dan peluang kesepakatan yang perlu diupayakan dalam Konferensi Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark, Desember mendatang.

(Nur Hidayati dari Singapura)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau