Obama, Internet, dan Kebebasan

Kompas.com - 18/11/2009, 05:40 WIB

NINOK LEKSONO

KOMPAS.com - ”Saya pendukung berat (pandangan) yang tidak membatasi penggunaan internet. Semakin kita terbuka, semakin mampu kita berkomunikasi, dan hal itu juga akan membuat dunia bersatu.” Presiden AS Barack Obama mengatakan itu di hadapan mahasiswa China di Museum Sains dan Teknologi, Shanghai, hari Senin (16/11).

Di antara jadwal kunjungan kenegaraan yang sibuk di China, Presiden Obama mendapat kesempatan untuk berdiskusi dengan generasi muda China di Shanghai, Senin. Selain dari audiens muda yang berjumlah beberapa ratus orang, di Museum Sains dan Teknologi, Presiden AS juga mendapat pertanyaan melalui internet.

Selain mediumnya, Obama juga menjadikan internet sebagai topik pembicaraan. Tanpa menyentuh isu politis, seperti Tibet, Obama mendorong adanya internet yang bebas. Kebebasan di bidang akses informasi ini digarisbawahinya sebagai salah satu hak-hak universal, bersama dengan kebebasan berekspresi dan berdoa, juga kebebasan ambil bagian dalam politik. Semua itu, menurut Obama, harus bisa dinikmati semua orang, termasuk kaum minoritas religius dan etnik.

Dari pernyataan yang dikutip pada awal tulisan ini tampak bahwa Obama tidak secara gamblang meminta pemimpin China untuk mengakhiri kontrol yang membatasi internet dan situs jejaring sosial online di negeri itu. Namun, apa yang ia gambarkan secara umum itu sebetulnya juga mengirim pesan kepada penguasa China.

Seperti banyak diberitakan, Pemerintah China memang masih sering membatasi penggunaan internet.

Di sinilah tampak perbedaan pandangan. Bagi Pemerintah China, penggunaan internet yang di dalamnya berisi kritik dianggap membahayakan, sementara Obama berpendapat internet yang bebas dan tak dihalang-halangi merupakan sumber kekuatan, bukan kelemahan.

Twitter

Pernyataan Obama di atas terkait pula dengan pertanyaan yang disampaikan melalui internet oleh mahasiswa, ”Apakah kami bisa menggunakan Twitter dengan bebas?”

Setelah menyebut bahwa dirinya tidak pernah menggunakan Twitter, Obama lalu mengatakan, sebagai Presiden AS, kadang ia berharap informasi tak mengalir dengan sangat bebas sehingga ia tak harus mendengarkan orang yang mengkritiknya terus-menerus.

”Namun, karena di AS informasi itu bebas dan saya punya banyak pengkritik di AS yang bisa mengatakan apa saja tentang saya, saya berpikir, hal itu membuat demokrasi kami lebih kuat dan juga membuat saya menjadi pemimpin yang lebih baik karena itu memaksa saya untuk mendengar opini yang saya tidak ingin mendengarnya,” ujar Obama (International Herald Tribune, 17/11).

Pertanyaan menyangkut Twitter ini di sisi lain mencerminkan pula upaya Obama sebagai presiden muda untuk menampilkan citra Amerika yang lebih ramah dan lebih lembut kepada kaum muda China, tanpa harus menyinggung perasaan penguasa setempat. Ini sendiri ekspresi seni komunikasi dengan nuansa latar belakang teknologi maju.

Penjelasan Obama tentang internet dan kebebasan tampaknya mengesankan sehingga seorang pengguna Twitter di Shanghai mengirim satu kesan ke satu situs web begini, ”Saya mendengar, melalui koneksi internet saya yang goyah, tentang pertanyaan mengenai kebebasan kita yang hanya bisa dibicarakan oleh seorang pemimpin asing.”

Tak sebagaimana pertemuan di balaikota di China dengan Presiden AS yang lain, sesi tanya jawab Obama tidak disiarkan langsung di jaringan media China. Siaran langsung hanya dilakukan oleh stasiun lokal. Sementara Gedung Putih menyiarkan langsung peristiwa itu pada situs webnya, yang tidak diblok atau disensor di China. Laporan juga bisa dibaca melalui halaman Gedung Putih di Facebook.

China dan Indonesia

Penggunaan media online dan media baru lain (dalam hal ini seluler) untuk menggalang dukungan dan menyampaikan aspirasi politik kini memang semakin marak. Di Indonesia, perjalanan reformasi banyak diiringi penggunaan media baru ini, apakah untuk mengoordinasi demo, menyebarluaskan petisi dan ide demokratis, atau mengirim berita ke media lokal dan internasional. Filipina menjelang penggulingan Presiden Joseph Estrada tahun 2001 juga memanfaatkan media serupa.

Terakhir, kita mendapat demo meyakinkan tentang aplikasi media baru untuk penyampaian dukungan politik saat kelompok Cicak berhasil menggalang lebih dari sejuta dukungan melalui Facebook untuk mendukung Komisi Pemberantasan Korupsi dan dua unsur pemimpin nonaktifnya. Satu terobosan juga lahir di sini, yaitu ketika dukungan di dunia maya ini ditransformasikan menjadi dukungan konkret di dunia nyata ketika para facebookers Cicak berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu 8 November silam.

Perkembangan di Indonesia memang tampak lebih maju dibandingkan dengan di China karena seiring kedatangan Presiden Obama di China, ada sejumlah aktivis yang ditangkap di Beijing dan di tempat-tempat lain. Zhao Lianhai, aktivis yang mengorganisasi dukungan online bagi orangtua yang anaknya kena dampak susu tercemar tahun lalu, seperti dilaporkan kantor berita AP, dicokok polisi di rumahnya, Jumat malam lalu.

Seperti dikatakan Presiden Obama, pemanfaatan internet secara bebas dan terbuka akan menjadikan demokrasi lebih kuat. Indonesia pada musim cicak vs buaya telah menyaksikan sendiri kebenaran pernyataan tersebut. Masyarakat Indonesia kini semakin menyadari, melalui situs jejaring sosial seperti Facebook yang oleh sebagian pengguna sering dianggap sebagai kanal penyaluran topik-topik iseng atau fun, ternyata mampu meneguhkan pilar demokrasi.

Ke depan, bila memang pemerintah konsekuen membangun masyarakat berbasis pengetahuan, yang pasti juga berbasis informasi, infrastruktur teknologi informasi-komunikasi pun akan lebih kuat. Berikutnya, hal itu juga akan memperkuat konstituen jagat maya, yang pada gilirannya juga akan memperkuat demokrasi dan dengan itu juga negara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau