KOMPAS.com - Pada bulan November ini, pertarungan di Timur Tengah bak berpindah ke Amerika Latin. Pada bulan ini, tiga pemimpin Timur Tengah (Israel, Palestina, dan Iran) mengunjungi negara-negara Amerika Latin dalam upaya mencari dukungan politik. Presiden Israel Shimon Peres, misalnya, kini sedang mengadakan lawatan ke Amerika Latin. Hari Senin (16/11) Shimon bertemu dengan Presiden Argentina Cristina Fernadez de Kirchner. Sebelumnya, Rabu (11/11) pekan lalu, Presiden Israel ini bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Seperti tak mau kalah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dijadwalkan menemui Presiden Brasil pada 20 November dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad akan bertemu dengan Presiden Brasil pada 23 November. Mengapa Israel, Palestina, ataupun Iran kini menganggap Amerika Latin penting? Amerika Latin sesungguhnya telah sangat lama menjadi pentas pertarungan Arab-Israel. Menurut Lembaga Yahudi Modern, Universitas Hebrew di Jerusalem, jumlah kaum Yahudi di Amerika Latin dan Tengah pada tahun 2000 sebanyak 428.000 jiwa. Pada tahun 2010, jumlah Yahudi di kawasan itu diperkirakan turun hingga 298.000 jiwa. Mereka terpencar di beberapa negara. Di Argentina terdapat 220.000 warga asal Yahudi, Brasil 100.000 orang, Meksiko 40.000 orang, dan Venezuela 20.000 warga Yahudi. Sisanya tersebar di beberapa negara. Aktivitas gerakan zionisme di Amerika Latin dilakukan melalui perkumpulan komunitas Yahudi, organisasi, dan lembaga yang bergerak di berbagai bidang dan tersebar di banyak negara. Di Brasil, misalnya, terdapat lembaga resmi bernama Gerakan Zionis yang terdaftar resmi di pemerintahan Brasil. Gerakan Zionis itu bergerak di berbagai bidang, seperti media massa, sosial, budaya, dan ekonomi. Namun, aktivitas utama Gerakan Zionis adalah memata- matai warga Palestina dan Arab yang bermukim di sejumlah negara Amerika Latin dan Amerika Tengah. Oleh karena itu, Gerakan Zionis melalui para kaki-tangannya berusaha berinteraksi langsung dengan warga Palestina dan Arab. Tak jarang, agen Mossad (agen rahasia Israel) menyamar sebagai warga Yahudi di Amerika Latin dan Tengah, berkenalan langsung dengan warga Palestina dan Arab untuk memantau aktivitas, orientasi politik serta ideologi mereka. Michael Nassar adalah warga Arab asal Lebanon yang menjadi saksi di pengadilan Belgia untuk menuntut mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon sebagai pelaku kejahatan perang karena terlibat pembantaian Sabra-Shatila di Beirut tahun 1982. Namun, Nassar dan istrinya tewas secara misterius pada 10 Maret 2002 di kota Sao Paulo, Brasil, akibat tembakan senjata berperedam suara. Diduga kuat, Mossad berada dibalik pembunuhan Nassar. Nassar adalah korban ketiga pada tiga bulan pertama tahun 2002 dari para saksi di pengadilan Belgia atas keterlibatan Sharon dalam pembantaian Sabra-Shatila. Ketika Dinas Intelijen Brasil menahan sejumlah warga Palestina dan Lebanon di kota Foz do Iguacu karena latar belakang kejahatan biasa, situs-situs berita milik Yahudi segera menyebarkan berita bahwa intelijen Brasil telah menahan sindikat loyalis Hezbollah dan Hamas. Kasus serupa sering terjadi di Brasil dan negara Amerika Latin lainnya, di mana gerakan Zionis selalu memanfaatkannya secara cerdik untuk tujuan politik. Gerakan Zionis, di Brasil khususnya, telah berusia lebih dari seratus tahun. Bermula dari lembaga Teferet Sion, sebagai lembaga Zionis pertama yang berada di bawah Gerakan Zionis internasional. Kongres gerakan Zionis digelar pertama kali di Brasil pada tahun 1922. Sejak itu, gerakan Zionis di Brasil bergerak di berbagai bidang, khususnya fokus berusaha dengan segala cara untuk merusak citra Arab dan Palestina. Di bidang media massa, gerakan Zionis di Brasil praktis unggul penuh berkat kepemilikannya atas sejumlah media cetak, elektronik, radio, bahkan jaringan internet yang mencapai hingga ratusan situs. Di antara media yang dikuasai gerakan Zionis adalah jaringan televisi SBT yang dimiliki Silvio Santos. Silvia Santos dikenal pernah menghibahkan sebuah pesawat kepada negara Israel pada tahun 1967 sebagai hadiah atas kemenangannya dalam perang melawan Arab pada tahun itu juga. Jaringan televisi SBT kini merupakan jaringan televisi terbesar kedua di Brasil. Warga Arab dan Palestina di Brasil sering mengajukan somasi kepada televisi SBT karena dalam beberapa kali pemberitaannya dinilai bias. Sebaliknya, gerakan Zionis sering menuduh media atau wartawan Brasil yang membela perjuangan rakyat Palestina sebagai anti-Semit. Gerakan Zionis pernah melakukan penekanan sedemikian rupa terhadap koran Jornal Brasil yang terbit di Rio de Janeiro untuk memecat salah seorang wartawannya bernama Fausto Walff yang dikenal sangat pro-Palestina. Namun, Jornal Brasil itu menolak permintaan gerakan Zionis itu. Gerakan Zionis di Brasil juga sering terlibat dukung-mendukung dalam kampanye politik untuk mendapatkan janji politik dari seorang kandidat yang ingin meraih jabatan tertentu. Pada pemilu presiden tahun 1989, gerakan Zionis berhasil mendapatkan janji politik dari kandidat Fernando Color, yang berhasil menjadi presiden Brasil pada tahun itu. Color saat itu berjanji akan membatalkan suara Brasil yang menyebut Zionis sebagai bagian dari rasialisme. Seperti diketahui, Brasil memberi suara mendukung Zionis sebagai bagian dari rasialisme pada sidang Majelis Umum PBB pada 10 November 1975. Manuver serupa dari gerakan Zionis di Brasil dan negara Amerika Latin lainnya sering terjadi sebagai bagian dari pertarungannya dengan Arab dan Palestina di kawasan itu.