Zionisme, dari Timur Tengah ke Amerika Latin

Kompas.com - 18/11/2009, 07:02 WIB

KOMPAS.com - Pada bulan November ini, pertarungan di Timur Tengah bak berpindah ke Amerika Latin. Pada bulan ini, tiga pemimpin Timur Tengah (Israel, Palestina, dan Iran) mengunjungi negara-negara Amerika Latin dalam upaya mencari dukungan politik.

Presiden Israel Shimon Peres, misalnya, kini sedang mengadakan lawatan ke Amerika Latin. Hari Senin (16/11) Shimon bertemu dengan Presiden Argentina Cristina Fernadez de Kirchner. Sebelumnya, Rabu (11/11) pekan lalu, Presiden Israel ini bertemu dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva.

Seperti tak mau kalah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dijadwalkan menemui Presiden Brasil pada 20 November dan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad akan bertemu dengan Presiden Brasil pada 23 November.

Mengapa Israel, Palestina, ataupun Iran kini menganggap Amerika Latin penting? Amerika Latin sesungguhnya telah sangat lama menjadi pentas pertarungan Arab-Israel.

Menurut Lembaga Yahudi Modern, Universitas Hebrew di Jerusalem, jumlah kaum Yahudi di Amerika Latin dan Tengah pada tahun 2000 sebanyak 428.000 jiwa. Pada tahun 2010, jumlah Yahudi di kawasan itu diperkirakan turun hingga 298.000 jiwa.

Mereka terpencar di beberapa negara. Di Argentina terdapat 220.000 warga asal Yahudi, Brasil 100.000 orang, Meksiko 40.000 orang, dan Venezuela 20.000 warga Yahudi. Sisanya tersebar di beberapa negara.

Aktivitas gerakan zionisme di Amerika Latin dilakukan melalui perkumpulan komunitas Yahudi, organisasi, dan lembaga yang bergerak di berbagai bidang dan tersebar di banyak negara.

Di Brasil, misalnya, terdapat lembaga resmi bernama Gerakan Zionis yang terdaftar resmi di pemerintahan Brasil. Gerakan Zionis itu bergerak di berbagai bidang, seperti media massa, sosial, budaya, dan ekonomi.

Namun, aktivitas utama Gerakan Zionis adalah memata- matai warga Palestina dan Arab yang bermukim di sejumlah negara Amerika Latin dan Amerika Tengah.

Oleh karena itu, Gerakan Zionis melalui para kaki-tangannya berusaha berinteraksi langsung dengan warga Palestina dan Arab. Tak jarang, agen Mossad (agen rahasia Israel) menyamar sebagai warga Yahudi di Amerika Latin dan Tengah, berkenalan langsung dengan warga Palestina dan Arab untuk memantau aktivitas, orientasi politik serta ideologi mereka.

Michael Nassar adalah warga Arab asal Lebanon yang menjadi saksi di pengadilan Belgia untuk menuntut mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon sebagai pelaku kejahatan perang karena terlibat pembantaian Sabra-Shatila di Beirut tahun 1982. Namun, Nassar dan istrinya tewas secara misterius pada 10 Maret 2002 di kota Sao Paulo, Brasil, akibat tembakan senjata berperedam suara. Diduga kuat, Mossad berada dibalik pembunuhan Nassar.

Nassar adalah korban ketiga pada tiga bulan pertama tahun 2002 dari para saksi di pengadilan Belgia atas keterlibatan Sharon dalam pembantaian Sabra-Shatila.

Ketika Dinas Intelijen Brasil menahan sejumlah warga Palestina dan Lebanon di kota Foz do Iguacu karena latar belakang kejahatan biasa, situs-situs berita milik Yahudi segera menyebarkan berita bahwa intelijen Brasil telah menahan sindikat loyalis Hezbollah dan Hamas.

Kasus serupa sering terjadi di Brasil dan negara Amerika Latin lainnya, di mana gerakan Zionis selalu memanfaatkannya secara cerdik untuk tujuan politik.

Gerakan Zionis, di Brasil khususnya, telah berusia lebih dari seratus tahun. Bermula dari lembaga Teferet Sion, sebagai lembaga Zionis pertama yang berada di bawah Gerakan Zionis internasional. Kongres gerakan Zionis digelar pertama kali di Brasil pada tahun 1922.

Sejak itu, gerakan Zionis di Brasil bergerak di berbagai bidang, khususnya fokus berusaha dengan segala cara untuk merusak citra Arab dan Palestina.

Di bidang media massa, gerakan Zionis di Brasil praktis unggul penuh berkat kepemilikannya atas sejumlah media cetak, elektronik, radio, bahkan jaringan internet yang mencapai hingga ratusan situs.

Di antara media yang dikuasai gerakan Zionis adalah jaringan televisi SBT yang dimiliki Silvio Santos. Silvia Santos dikenal pernah menghibahkan sebuah pesawat kepada negara Israel pada tahun 1967 sebagai hadiah atas kemenangannya dalam perang melawan Arab pada tahun itu juga. Jaringan televisi SBT kini merupakan jaringan televisi terbesar kedua di Brasil.

Warga Arab dan Palestina di Brasil sering mengajukan somasi kepada televisi SBT karena dalam beberapa kali pemberitaannya dinilai bias.

Sebaliknya, gerakan Zionis sering menuduh media atau wartawan Brasil yang membela perjuangan rakyat Palestina sebagai anti-Semit.

Gerakan Zionis pernah melakukan penekanan sedemikian rupa terhadap koran Jornal Brasil yang terbit di Rio de Janeiro untuk memecat salah seorang wartawannya bernama Fausto Walff yang dikenal sangat pro-Palestina. Namun, Jornal Brasil itu menolak permintaan gerakan Zionis itu.

Gerakan Zionis di Brasil juga sering terlibat dukung-mendukung dalam kampanye politik untuk mendapatkan janji politik dari seorang kandidat yang ingin meraih jabatan tertentu.

Pada pemilu presiden tahun 1989, gerakan Zionis berhasil mendapatkan janji politik dari kandidat Fernando Color, yang berhasil menjadi presiden Brasil pada tahun itu.

Color saat itu berjanji akan membatalkan suara Brasil yang menyebut Zionis sebagai bagian dari rasialisme. Seperti diketahui, Brasil memberi suara mendukung Zionis sebagai bagian dari rasialisme pada sidang Majelis Umum PBB pada 10 November 1975.

Manuver serupa dari gerakan Zionis di Brasil dan negara Amerika Latin lainnya sering terjadi sebagai bagian dari pertarungannya dengan Arab dan Palestina di kawasan itu.

(Musthafa Abd Rahman)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau