ABG Mengaku Diperkosa Waria

Kompas.com - 18/11/2009, 10:28 WIB

MALANG, KOMPAS.com — Anak baru gede ini bernasib buruk, tapi menggelikan. Dia mengaku dipaksa berhubungan badan oleh waria, juga dirampas ponsel dan uangnya. Namun, waria itu membantah, dia tidak memaksa berhubungan badan, tetapi memang di-booking. Mana yang benar?

Adalah AP (16), ABG yang masih duduk di bangku SLTA yang ketiban apes ditodong silet oleh waria yang di-booking-nya. Bocah yang tinggal di Jalan Simpang Suropati, Desa Losari, Singosari, itu semula hendak pulang ke rumah kakaknya di kawasan Pakis. Saat melintas dengan motor di Jalan Sunandar Priyo Sudarmo, Blimbing, AP berhenti sejenak untuk membeli rokok. Ketika itu, jarum jam menunjukkan pukul 01.00.

Menurut AP, saat itu dia didatangi seorang waria yang kemudian menyeretnya ke tempat sepi. Di tempat tersebut, AP dipaksa untuk melayani nafsu birahi sang waria yang kemudian diketahui bernama H alias Tia. Setelah puas "menggarap" AP, seorang waria lain datang dan ganti melakukan pencabulan. Penderitaan AP tidak sampai di situ. Selanjutnya, kedua waria tersebut mengeluarkan cutter serta meminta AP untuk menyerahkan ponsel dan semua uang yang dimilikinya.

“Mereka menempelkan silet (cutter) ke leher saya, dan meminta uang Rp 500.000. Namun, saya hanya punya uang Rp 180.000 dan ponsel. Ponsel sempat saya buang ke semak-semak, tapi kemudian ditemukan juga oleh mereka,” tutur AP kepada penyidik Polsekta Blimbing.

Tia (24), waria yang dilaporkan AP itu, ditangkap petugas Polsekta Blimbing beberapa jam kemudian. Namun, ia membantah tuduhan mencabuli AP. Waria yang tinggal di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, itu hanya mengakui merampas uang dan ponsel AP, tetapi soal hubungan seks, itu dilakukan atas kesepakatan jual beli.

“Saya tidak memaksa atau mencabuli, saya ini di-booking sesuai kesepakatan harga, Rp 30.000 sekali kencan,” kata Tia saat diinterograsi petugas di Polsekta Blimbing.

Kasus ini belum tuntas. Polsekta Blimbing masih punya satu tugas lagi, yaitu memburu waria teman Tia yang diduga membantu mencabuli AP dan merampas barang-barangnya. Tinggal AP yang harus mati-matian menjelaskan kepada keluarganya bagaimana bisa ia berurusan dengan waria itu. (why)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau