Kapolri: Polri Bukan "Superbody" dan Tidak Ingin Ditakuti

Kompas.com - 19/11/2009, 21:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Polri bukanlah institusi superbody, melainkan pengayom dan pelindung masyarakat. Polri telah berkomitmen menjadi penegak hukum yang tegas tetapi juga humanis. Hal ini disampaikan Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri, Kamis (19/11) malam di DPR, menanggapi kritikan anggota Dewan yang menyebut bahwa Polri telah menjadi institusi superbody. "Ikon tegas dan humanis merupakan cita-cita luhur yang ingin kami lakukan. Kami tidak ingin ditakuti," ujarnya.

Bambang menambahkan, reformasi struktural dan kultural pada kepolisian yang digembar-gemborkannya bukanlah sekadar lip service. Sistem rekrutmen, misalnya, telah dilakukan berdasarkan merit system. Selain itu, Polri juga telah serius melaksanakan pembinaan personel dengan didukung pendidikan yang memadai.

Khusus untuk oknum kepolisian yang nakal, pihaknya berjanji akan menindak tegas. Sepanjang tahun ini, ia mengatakan bahwa Polri telah menindak ratusan personel yang tidak disiplin. Pada kesempatan tersebut, Bambang kembali menegaskan bahwa tidak ada tumpang tindih wewenang antara Polri dan KPK terkait penanganan kasus korupsi. Pasalnya, kedua institusi penegak hukum tersebut memiliki obyek yang berbeda.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau