Ida Antasari: Saya Tidak Punya Perasaan Apa Pun ke Rani (2)

Kompas.com - 21/11/2009, 14:24 WIB

Apa yang biasanya diceritakan kepada Anda saat bertemu?
Ya, tanya kabar dan kegiatan anak-anak. Seperti saat yang sulung ke Pariaman, dia tanya, “Berarti kamu sendirian, dong, di rumah?” Saya jawab, “Ada adikku, kok, yang nemenin.”

Seberapa sering berkunjung ke penjara?
Hampir setiap hari, sih, kalau saya sedang tidak ada kegiatan atau kalau dia sedang tak ada rapat dengan penasihat hukumnya. Kadang saya enggak tahan juga kalau gabung sama mereka karena bau asap rokok. Biasalah, laki-laki. Ha-ha-ha….

Apa yang biasa Anda bawa saat mengunjunginya?
Makanan. Saya biasanya bawakan makanan olahan sendiri, seperti tahu dan udang yang dimasak dengan santan. Apa tuh namanya? Ha-ha-ha.... Kalau adiknya, Lena, yang datang dari Palembang, selalu bawa makanan kesukaannya, lempo, yang sudah dimasak sebelumnya di Palembang.

Selain itu apa saja sih kegiatan Bapak di sana?
Dia sedang sibuk menulis buku tentang riwayatnya di dalam penjara. Sudah ada beberapa buku yang rencananya akan diterbitkan. Selain itu, meladeni tamu-tamu yang datang, seperti Pak Emha Ainun Najib dan beberapa sastrawan lainnya. Juga main catur atau tenis meja dengan teman-temannya di tahanan. Dia enggak pernah merasa sepi di sana.

Apa nih yang paling dirindukan Bapak di rumah?
Suara burungnya. Di rumah, dia punya burung jenis kakatua, beo, dan kenari sekitar 12 ekor. Di Polda juga dia punya burung kenari, dikasih teman sesama tahanan. Bapak paling senang kalau bangun tidur itu baca koran sambil dengar suara burung.

Anak-anak sejauh ini sudah bisa menerima apa yang menimpa ayahnya?
Mereka biasa saja, kok. Dari awal, kan, mereka sudah tahu seperti apa risiko pekerjaan papanya. Lagipula, eyang mereka juga, kan, dulu kerjanya di militer. Teman-teman mereka juga baik-baik dan mendukung. Jadi, anak-anak enggak pernah minder dalam bergaul.

Sekarang anak-anak sepenuhnya dalam pengawasan Anda, dong?
Enggak juga ya, karena hampir setiap hari mereka (Andita Dianoctora Antasari Putri dan Ajeng Oktarifka Antasari Putri) mengunjungi papanya. Kebetulan yang bungsu sengaja cuti dari kuliahnya di Australia supaya bisa lebih dekat dengan papanya. Jadi, papanya juga masih bisa terus mengawasi anaknya.

Pastinya Anda benci ya dengan orang-orang yang menganiaya suami?
Enggaklah. Benci sama orang, tuh, beban. Menyiksa batin. Ya, semuanya saya jalani biasa saja. Sejak kecil mental saya sudah ditempa bapak saya supaya berani dan tetap kuat menghadapi persoalan. Bapak saya, kan, ABRI. Tahu sendirilah bagaimana ABRI zaman dulu mendidik orang.

Dulu, bapak sayaKomandan Denpomengetes empat anaknya dengan berjalan bergantian di lorong gedung kantornya (yang menyerupai lorong rumah sakit). Tengah malam dan tanpa lampu. Kalau sekolah pun, kami harus jalan kaki, tidak boleh diantar dengan mobil dinasnya. Hal kecil itulah yang membuat saya tetap kuat seperti sekarang ini.

Mengapa Anda mengundurkan diri sebagai saksi dalam kasus ini?
Kalau memang kesaksian saya diperlukan sekali, saya harus datang. Tapi, selama saya memiliki hak untuk bisa tidak datang, ya, saya pergunakan. Ini diatur dalam KUHP, kok. Lagi pula, apa kapasitas saya bersaksi di sana? Iya, kan?

Rani mengelak pernah meneror Anda melalui telepon seluler. Ada tanggapan?
Itu hak dia berbicara seperti itu di pengadilan. Sebelum memberikan pernyataan, kan, dia sudah disumpah. Siapa pun pasti akan membela dirinya.

Adakah keinginan untuk bertemu Rani?
Enggak, ya. Buat apa? Apa kapasitasnya saya bertemu dia? Apa pun yang sudah terjadi, saya tetap tidak ada perasaan ke dia. Dia itu, kan, seumuran dengan anak saya. Secara psikologis, setelah apa yang terjadi, pasti dia juga merasa terbebani dengan masalah ini.

Sepertinya tenang sekali menghadapi semua ini?
Dari awal, saat Bapak ditangkap tanpa ada bukti terlebih dahulu, saya sudah bisa membaca apa sesungguhnya yang terjadi di belakang ini semua. Sama seperti Bapak, saya pasrah saja. Cukuplah bagi saya mencurahkan perasaan ini setiap malam kepada Yang Maha Kuasa. Setiap kali selesai ngobrol dengan-Nya, hati ini rasanya ringan sekali.

Saya justru lebih berempati dengan apa yang terjadi kepada Ibu Novarini (istri Wilardi). Anaknya masih kecil-kecil, sedangkan anak saya sudah besar. Dia pasti sangat kesulitan memberi pengertian kepada anaknya, apa yang sesungguhnya terjadi pada ayah mereka. Apa yang dirasakan ibu itu (Novarini) pasti berat sekali.

Seperti apa sih cinta yang Anda miliki untuk suami?
Seumur kami ini namanya sudah bukan cinta lagi, ya. Saya anggap dia sebagai pengayom, teman sharing, pelindung. Selama 26 tahun hidup bersama, kami benar-benar saling mengisi satu sama lain.

Selama itu pernah dibuat kecewa oleh seorang Antasari?
Pernah. Dia itu orangnya tidak pernah senyum. Banyak sekali yang protes dengan kebiasaannya yang satu itu. Kalau saya protes, dia bilang, “Masa saya mau cengengesan terus. Saya memang begini, dilahirkan untuk tidak tersenyum.” Saya, tuh nyuruh dia senyum bisa sampai berantem. Padahal, kalau senyum, kan, dia manis sekali, ya. Ha-ha-ha.

Kuasa hukum Bapak banyak sekali dan kebanyakan pengacara papan atas. Pasti bayarannya juga besar ya?
Sepeser pun kami tidak membayar mereka. Mereka tergerak sendiri untuk membantu Bapak. Bapak sendiri bilang tidak akan mampu membayar mereka.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau