Ajudan Wawali Ikut Tenggelam

Kompas.com - 23/11/2009, 04:48 WIB

KARIMUN, KOMPAS.com - Teriakan histeris membahana ketika kapal Dumai Express 10 dihantam ombak di perairan Tokong Hiu Karimun, Minggu (22/11). Bagian haluan kanan kapal yang memuat lebih dari 278 penumpang itu terbelah.

Saat pecah, air laut sangat cepat masuk ke kapal. Kapal kemudian menghujam. Sekitar 20 menit kemudian, tenggelam.

Departemen Kesehatan merilis, jumlah korban tewas mencapai 20 orang. Korban selamat mencapai 245 orang, sedangkan 17 lainnya dinyatakan hilang. “Wafat ditemukan 29 orang,” ujar Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Depkes, Rustam S Pakaya.

Ajudan Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika, Bambang A Saputra, ikut tenggelam dalam insiden tersebut. Saat itu Bambang bersama Amirudin AT (ayah), Khadijah (ibu), dan kedua adiknya Arsyad dan Rayhan, akan menghadiri pernikahan saudaranya di Bengkalis.

Beruntung Bambang berhasil diselamatkan dan dirawat di RSUD Karimun. Sementara keluarga Bambang belum ada kabar. Bambang sempat histeris. Petugas terpaksa memberikan obat tidur.

Hingga malam, di rumah Bambang, Kompleks Tiban 3, Blok A8 No.119, Batam, terlihat para kerabat dan tetangga hadir memenuhi halaman dan ruang depan. Kehadiran para tentangga dan kolega itu sebagai bentuk dukungan  rasa empati atas kejadian tersebut. Mereka mengadakan doa bersama sambil menunggu kabar dari keempat orang keluarga Bambang yang belum dipastikan kabarnya.

“Kami masih menunggu kabar dari Pak Amir (ayah Bambang), Bu Khadijah (Ibu) dan kedua adiknya yang masih kecil, Arsyad dan Rayhan. Kasihan mereka masih kecil- kecil, mudah-mudahan mereka selamat,” ucap salah seorang kerabat.

Wakil Wali Kota Batam Ria Saptarika juga ikut panik. Ria sibuk mencari kabar keberadaan ajudannya.”Mohon bantuan dan doa Bambang beserta orangtua mendapat musibah tenggelam di laut,” ujar Ria. Haluan terbelah
Korban selamat hingga kini masih berada di kediaman Bupati Karimun Nurdin Basirun. Sebagian lainnya dievakuasi ke Makolanal Karimun.

Fariz Khaitumanah, korban selamat, mendengar bunyi keras saat ombak menghantam kapal yang ia tumpangi.

“Saya lihat bagian depan kapal sudah terpisah dua dan saking kerasnya TV di depan kami sampai terjatuh,” ujar Fariz Khairumanah (24), korban selamat.

Hanya dalam hitungan detik, air laut sudah masuk setinggi lutut penumpang. “Saya lihat penumpang tidak sempat lagi ambil jaket (keselamatan), langsung berhamburan ke bagian belakang kapal,” terangnya.

Masdianto, penumpang lainnya, berusaha menenangkan penumpang. Namun penumpang tetap panik.”Tapi sayangnya banyak keluarga yang saya lihat pasrah dan diam saja di bangkunya,” ungkap Masdianto.

Para penumpang kemudian naik ke kapal. Ada juga mereka yang menyelamatkan diri dengan cara melompat dari jendela.

“Saya lihat kapal perlahan sudah mulai tenggelam. Saya lihat tak ada satupun orang yang mau melompat dari atas kapal. Lalu saya berinisiatif menjadi yang melompat pertama, dan untungnya diikuti penumpang lainnya,” ujar Fariz.

Langkah berani Fariz kemudian diiuti penumpang lainnya. Jika tidak, korban tewas akan bertambah banyak karena terseret kapal yang tenggelam.

Setelah melompat, Fariz berenang sebisanya. Dalam hitungan 15 menit kemudian seluruh kapal tenggelam.

Adegan dramatis masih terjadi, ketika Fariz harus melihat bayi dan ibu-ibu muda sudah tak bernyawa satu per satu mengapung di depan matanya.

Evakuasi mengharukan Suasana pasca tenggelamnya KM Dumai Ekspres 10 cukup membuat miris. Sejumlah anggota Tim SAR mengungkapkan, saat itu kapal sudah tidak terlihat lagi. Yang tampak mengapung di laut hanyalah para korban yang sebagian mengenakan pelampung seadanya.

Bahkan ada beberapa orang yang tanpa pelampung sedang berjuang melawan maut. Umumnya sudah dalam kondisi lemas.

“Kami bisa membayangkan bagaimana paniknya penumpang. Kami juga tinggal melihat ceceran barang-barang bawaan. Ada pakaian bayi, perlengkapan pribadi dan lain-lain,” kata Nur, salah seorang anggota tim pencari korban.

Untuk melakukan evakuasi Kantor Bea Cukai Khusus Kepri juga menerjunkan kapal BC 20003. Selama berputar-putar di laut kurang lebih dua jam, tim berhasil mengevakuasi delapan korban selamat dan satu korban tewas yang berjenis kelamin perempuan.

“Kami pertama kali menemukan korban selamat, dua orang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Keduanya memakai pelampung dan diperkirakan suami istri. Dia sedang berjuang melawan ombak besar,” ucap Yanto, salah seorang kru.

Yanto menuturkan, saat melihat dua orang itu, timnya langsung melemparkan ban pelampung. Setelah itu disusul anggota tim untuk mengangkat korban ke kapal.

“Selang beberapa menit kami juga menemukan satu korabn tewas seorang perempuan. Dia dalam kondisi lemas dan ada bekas luka di bagian kepala,” tambahnya.

Yanto menuturkan, sebagian korban tewas yang ditemukan tidak mengenakan pelampung. Kondisinya lemas dan sebagian lagi terluka di tubuhnya yang diperkirakan karna benturan dengan bodi kapal saat terlempar ke laut. Hal itu dikuatkan penuturan beberapa korban selamat bahwa saat kapal mau tenggelam para penumpang berebut pelampung dan saling dorong.

Dalam evakuasi korban, pihak perusahaan juga mengerahkan dua kapal, yaitu Dumai ekspres 8 dan Dumai Ekspres 19. Kapal-kapal itu dioperasikan untuk menjemput para korban setelah ditolong oleh kapal-kapal kecil, termasuk speed boat milik BC.

Bahkan kapal Dumai Ekspres 19 juga sempat kandas di tengah laut akibat empasan gelombang tinggi tersebut. Beruntung, setelah beberapa saat terhenti kapal bisa bergerak kembali untuk menerima limpahan korban selamat dari kapal lain.

Menurut pantaun Tribun, saat kapal pembawa korban merapat ke darat, ratusan orang yang merupakan anggota keluarga korban, telah menunggu. Jerit tangis dari para perempuan terdengar besahut-sahutan ketika melihat anggota keluarga mereka berada di dalam kapal dalam posisi tergeletak. Sebagian merasa lega ketika kondisinya selamat.

Pada saat bersamaan ribuan warga juga telah memadati rumah dinas Bupati Karimun Nordin Basirun di kawasan Taman Bunga. Di rumah bupati itulah korban selamat ditampung. Sedangkan korban cedera dan tewas langsung dibawa ke RSUD Karimun.
Suasana  mengharukan ter-lihat kala para anggota ke-luarga korban tiba di RSUD Karimun. Tangisan terdengar di setiap sudut ruangan setelah para anggota keluarga korban melihat sanak saudara mereka telah terbujur tidak bernyawa. Berdasarkan data di RSUD, dari keseluruhan korban terdapat 6 anak-anak. Bocah-bocah yang bernasib malang itu berumur di bawah dua tahun.(msa/yah/bur/san/apr/tia)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau