TANGERANG, KOMPAS.com - Peristiwa bom Bali pertama tahun 2002, yang mengguncang industri pariwisata Indonesia, membutuhkan waktu cukup lama untuk recovery. Ancaman tersebut merupakan satu dari dua faktor yang sangat berhubungan dengan industri perhotelan. Bencana nasional seperti gempa bumi atau banjir, dan pengaruh lingkungan seperti flu babi atau keresahan sosial seperti demo dan perkelahian massal, merupakan faktor yang tak dapat diprediksi. Lalu apa yang harus dilakukan apabila hal-hal di luar kontrol itu terjadi?
Topik tersebut dibahas dari aspek pemerintah dan pengusaha perhotelan dalam seminar bertajuk “Overcoming the Challenges and the Threads Towards the Hospitality Industry” yang diadakan Sekolah Tinggi Pariwisata Pelita Harapan, Senin (23/11) di kampus UPH Lippo Village.
Secara garis besar, dua macam ancaman tersebut dapat diatasi dengan pencegahan (prevention) dan hubungan masyarakat (public relations) yang baik. “Prevention itu termasuk bangunan yang harus sesuai standar yang berlaku, maintenance secara periodik, karyawan bekerja sesuai standard operating procedures (SOP), dan memastikan bahwa gedung sudah diasuransi,” ungkap Carla Parengkuan, Direktur Eksekutif Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), satu dari dua pembicara seminar.
Sementara pembicara lainnya, Noviendi Makalam, Sekretaris Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyatakan perlunya PR terutama ketika ancaman telah menjadi kenyataan. “PR berfungsi sebagai sumber informasi. Dalam situasi yang tidak kondisional, sebaiknya kita membuka media center, supaya semua informasi masuk ke situ dan yang membutuhkan informasi bisa mendapatkannya di situ juga. Jadi arus informasinya jelas,” kata Novi.
Pemerintah juga harus turut ambil bagian dalam pemulihan citra Indonesia, khususnya pariwisata dan perhotelan. “Bisa dengan mengadakan workshop simulasi, menyiapkan panduan untuk antisipasi dan respon cepat, kemudian panduan itu disosialisasikan, dimonitor dan dievaluasi, serta menyediakan anggaran untuk mendukung aktivitas-aktivitas tersebut,” tambah Novi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang