Wawancara dengan Ito Sumardi (2)

Kompas.com - 25/11/2009, 19:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tugas besar yang akan diemban Irjen Ito Sumardi setelah terpilih menjadi Kepala Bareskrim salah satunya adalah memberantas mafia hukum. Profesionalisme Polri dalam melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus hukum juga menjadi pekerjaan rumahnya untuk mengembalikan wibawa Polri yang tercoreng kasus Chandra dan Bibit. 

Apa yang akan dilakukannya nanti disampaikannya dalam wawancara, Rabu (25/11). Kompas.com menyajikan hal tersebut dalam wawancara bagian kedua dari tiga bagian. Berikut kelanjutan transkrip wawancara dengan Ito di Mabes Polri:

Bapak yakin mafia hukum bisa dihilangkan?

Saya sangat yakin karena, kalau mafia hukum harus ada koneksi ke dalam, ya orang dalam kita tertibkan. Sepanjang dia tidak diberi kesempatan, tidak mungkin bisa melakukan. Katakan dia mafia hukum, tapi kalau dia tidak melakukan apa-apa selama saya menjabat tentunya kita tidak ngapa-ngapain.

Mafia hukum mau diberantas seperti apa?

Masalah mafia hukum, kita harus sepakat dulu. Yang dinamakan mafia hukum apa sih? Kriterianya apa? dan siapa sih? Kemudian kita juga harus melihat bagaimana keterkaitan dengan orang dalam karena tanpa keterkaitan tidak mungkin orang ini mendapat kesempatan dan demikian berkuasa, dan orang dalamnya ini siapa? Ini masuk dalam program 100 hari untuk ke dalam dengan adanya operasi bersih. Kemudian zero defiasion, zero tolerance itu yang akan kita prioritaskan ke depan.

Jadi Bapak akan mengurusi ke dalam dulu?

Jelas dong. Pokoknya kita kalau mau membersihkan ini, kita kan harus bersih-bersih rumah dulu. Juga, setiap langkah, saya harus laporkan kepada Kapolri. Kemudian di sini juga ada fungsi Itwasum, Propam. Itu kita laksanakan.

Mau kerja sama dengan LSM?

Kita akan membuka ruang publik seluas-luasnya. Apakah itu dari LSM. Kita sangat terima kasih kalau ada data-data yang diberikan kepada kita. Tentunya dalam pengungkapan dan tindak lanjut akan sangat terbuka kita sampaikan sehingga tidak ada lagi seolah-olah kita manipulasi, rekayasa. Ini kan hanya masalah tersumbat komunikasi sehingga kita saling bertanya karena ketidaktahuan ini. Maka, muncul suatu penafsiran.

Nah, penafsiran yang berkembang menjadi suatu rumor. Saya berharap kontroversi atau rumor yang berkembang sekarang, apakah cicak-buaya ini bisa kita akhirilah sampai di sini. Kita membangun suatu suasana kebersamaan dan keterbukaan yang baru. Saya mengutip salah satu moto seorang yang bijak, "think do, speak tomorrow". Ya makanya itu berpikir dulu baru bertindak, berpikir dulu sebelum bicara.

Banyak kasus besar yang sudah ditangani, tetapi jalan di tempat. Apa nantinya akan ada kepastian hukum?

Kita lihat nanti. Saya mesti pelajari dulu di mana macetnya karena salah satu program 100 hari pemerintah tagline-nya mengurai hambatan-sumbatan yang ada di sana. Itu yang harus kita lakukan.

Khusus korupsi kan ditangani polisi, jaksa, KPK. Nanti ke depan kita harus sinergi dan harmonis. Saya juga ingin nanti kalau sudah dilantik akan datang sowan ke Kejakasaan Agung, KPK, tentu seizin Kapolri.

Bapak siap disadap?

Sadap itu kan suatu proses ataupun upaya untuk mendapatkan satu keterangan dan penyadapan. Itu diperbolehkan. Kalau kita tidak merasa melakukan pelanggaran, kenapa kita takut disadap. Boleh aja disadap enggak masalah. Tapi tentunya yang dilakukan harus sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Jadi, tidak semua orang disadap. Nanti orang enggak mau pakai handphone.

Secara pribadi, tanggapan terhadap kasus yang menimpa Susno bagaimana? Bapak kan sahabatnya.

Saya merasakan seperti Pak Susno ini kan sudah berbuat yang terbaik bagi Polri, bagi negara. Yang Pak Susno alami samalah seperti waktu saya dituduh terlibat judi. Tetapi kan akhirnya waktu juga yang membuktikan. Tentunya sebagai sahabat Pak Susno, kita sampai kapan pun akan terus berkoordinasi. Saya juga akan banyak belajar. Beliau kan sudah lama di Bareskrim.

Bapak yakin Pak Susno tak bersalah?

Aduh kalau itu saya juga enggak tahu yang sebenarnya karena kan kita hubungannya sebatas sahabat. Satu angkatan, seperti saudara dengan beliau. Bicara pun tidak pernah ada yang ditutupi. Tetapi tentunya ada hal-hal tertentu yang saya tidak tahu. Saya tidak bisa mengatakan seorang itu salah atau benar. Kecuali orang itu sendiri.

Bersambung.....

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau