Daging Kurban dari Presiden Jadi Incaran

Kompas.com - 26/11/2009, 14:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sehari sebelum hari raya Idul Adha, sejumlah warga sudah menantikan datangnya rezeki berupa daging kurban. Tak terkecuali, daging kurban dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Masjid Istiqlal, Jakarta.

Ketika Kompas.com baru tiba di Masjid Istiqlal, Kamis (26/11) siang, mendadak empat ibu duduk mendekat. Seorang di antaranya, bernama Supri (35), langsung bertanya, "Mas, mau tanya dong. Kuponnya kapan dibagiin?"

"Bu, saya juga belum tahu. Ini baru saja datang, mau tanya juga soal itu," jawab Kompas.com.

Supri dan ketiga temannya sama-sama tinggal di rumah susun sederhana Karang Anyar, Jakarta Pusat, sekitar dua kilometer dari Masjid Istiqlal. Namun, kesempatan mencari kupon pembagian daging kurban di masjid tersebut baru kali ini mereka lakukan.

"Dulu-dulunya enggak pernah dapat. Kalau ke sini selalu kehabisan," ujar Supri.

"Habis, antrenya sudah dari subuh, sih. Kan kami masak dulu, ngurus anak dulu," timpal ibu lain yang berambut pendek dan dicat merah belang-belang.

Antre sejak dini hari itu kemungkinan besar akan terjadi lagi tahun ini. Pasalnya, Panitia Idul Adha Masjid Istiqlal tahun ini akan mulai membagikan daging kurban mulai pukul 05.00.

"Penyembelihan hewan akan dilakukan setelah Isya (Jumat, 27 November 2009) dan diharapkan selesai pukul 04.00 (Sabtu). Setelah itu mulai dibagikan kepada warga," kata Ketua Panitia HA Syamsudin.

Pembagian daging kurban sehari setelah Idul Adha itu sengaja dilakukan untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, pembagian daging kurban seusai shalat Id cenderung membuat panitia dan warga yang menanti menjadi lelah. Warga yang menunggu terlalu lama akan kehilangan kesabaran, apalagi jika akhirnya tak kebagian kupon.

Syamsudin menuturkan, tahun lalu panitia Idul Adha di Masjid Istiqlal memberikan 5.000 kupon. Adapun jumlah warga yang datang untuk mengantre kupon berkisar 7.000 orang.

"Tahun lalu, banyak yang dari Bogor dan sekitar Jakarta. Mereka bilang, 'Kami memang pengin, Pak, dapat daging (kurban) dari Presiden.' Apalagi sapi dari Presiden itu biasanya spesial, tahun lalu beratnya 1,2 ton," ungkap Sekretaris Panitia, Wahyono.

"Tempat minum Presiden pun jadi rebutan warga. Setelah shalat Id, pasti banyak yang berebut. Mungkin karena mereka percaya bisa dapat berkah," timpal Syamsudin.

Di luar berkah yang diperoleh di hari raya, sebagian warga tampaknya punya kepercayaan bahwa barang apa pun yang pernah digunakan Presiden Yudhoyono bisa mendatangkan rezeki. Seperti yang dicita-citakan ibu Supri tadi.

"Siapa tahu entar anak saya bisa jadi presiden," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau