Dukungan Angket Mengalir

Kompas.com - 30/11/2009, 05:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dukungan sejumlah tokoh nasional terus mengalir pada penggunaan hak angket Bank Century oleh Dewan Perwakilan Rakyat. Minggu (29/11), mantan Ketua MPR Amien Rais menyatakan mendukung pengusutan kasus Bank Century melalui hak angket DPR.

Dukungan itu diberikan melalui sembilan anggota DPR inisiator hak angket Bank Century atau Tim Sembilan yang menemui Amien di Jakarta, Minggu. Keputusan DPR atas hak angket itu sendiri akan diambil dalam Rapat Paripurna DPR, Selasa (1/12) besok.

Sebelumnya, Tim Sembilan juga telah mendapatkan dukungan dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid. Setelah menemui Amien, pekan ini Tim Sembilan berencana bertemu mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Ma’arif, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie.


Inisiator hak angket dari Fraksi Partai Amanat Nasional, Chandra Tirta Wijaya, mengungkapkan, dalam pertemuan dengan Amien yang berlangsung sekitar 40 menit, Tim Sembilan memberikan resume dokumen terkait dengan kasus Bank Century.

”Kami menyampaikan perkembangan hak angket Bank Century, sekaligus memohon dukungan moral dan doa kepada Pak Amien,” tutur Chandra.

Lebih lanjut Chandra mengungkapkan, Amien mendukung hak angket Bank Century dan berpesan supaya data terkait dengan Bank Century tidak hilang.

Mengenai safari Tim Sembilan ke tokoh-tokoh nasional, Chandra mengatakan, setelah melihat data konkret temuan penggagas hak angket serta hasil audit BPK, Tim Sembilan menganggap skandal Bank Century ini cukup besar dan sensitif.

”Untuk itu, kami mencoba menyosialisasikan dan meminta dukungan tokoh-tokoh nasional. Mungkin saja mereka tak mengikuti kasus Bank Century secara detail sehingga kami memberikan semua bahan-bahannya,” kata Chandra.

Tagih janji Presiden

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Ma’arif membenarkan hari Senin ini akan ditemui Tim Sembilan. Terkait kasus Bank Century, Syafii Ma’arif menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengatakan akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi di Indonesia.

”Dengan jiwa besar, Presiden harus mendukung pengusutan kasus Bank Century, sesuai dengan janjinya yang akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi di Indonesia,” tutur Syafii.

Syafii Ma’arif mendorong pengusutan Bank Century harus segera dilakukan untuk menyelamatkan kepentingan bangsa yang lebih besar. Oleh karena itulah, ia akan memberikan dukungan kepada para inisiator hak angket Century.


Secara terpisah, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin juga mengungkapkan dukungannya dalam pengusutan kasus Bank Century. Dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut mengawal pengusutan kasus Bank Century, baik secara hukum maupun politik.

Menurut Din, para penegak hukum harus segera mengusut untuk menjernihkan rumor atau isu yang beredar bahwa dana talangan itu mengalir ke kekuatan politik atau pejabat tertentu. Selain itu, dia juga mengingatkan anggota DPR tetap memegang komitmen atas pengajuan hak angket.

Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie di Kota Semarang, Minggu, mengatakan, Fraksi Partai Golkar di DPR siap menjadi ketua panitia khusus angket Century jika fraksi lain menghendaki. Aburizal juga mengatakan, sejak awal Partai Golkar mendukung hak angket meski partai itu berkoalisi dengan pemerintah. (UTI/NTA/SIE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau