JAMBI, KOMPAS -
Operasi berlangsung selama lima jam, mulai pukul 09.00-14.00. Tim medis melibatkan dua dokter spesialis, yakni spesialis bedah saraf dan spesialis mata.
Menurut Kristiawan, Fasilitator Kesehatan Komunitas Konservasi Indonesia (KKKI) Warsi, yang mendampingi Sulai, Sulai mengalami luka parah akibat cakaran beruang. Mata kiri Sulai rusak dan tempurung kepalanya berlubang.
Dalam operasi tersebut, dokter pertama-tama menambal bagian yang berlubang dengan pelat dan screw berbahan titanium. Kemudian dilanjutkan dengan memperbaiki jaringan mata kiri Sulai yang dipastikan tidak akan bisa melihat lagi.
Biaya operasi ditanggung negara melalui program Jamkesmas. Namun, karena pelat dan screw tidak termasuk dalam
Untuk itu, KKKI Warsi mencarikan Sulai donatur. Gayung bersambut dari Bupati Batanghari Syahirsah yang akhirnya mengucurkan dana bantuan dari APBD.
Sulai adalah anak suku dalam dari kelompok Tumenggung Ngamal yang saat ini bertempat tinggal di kawasan Kejasung Kecil di Taman Nasional (TN) Bukit Duabelas. Ia diserang beruang pada 11 November di Serenggam, di kawasan TN.
Menurut Wanto (24), warga di Unit 1 Bukit Harapan RT 18, Kecamatan Mersam, yang menolong korban, Sulai diserang beruang dari belakang saat istirahat seusai berburu babi hutan. Setelah beberapa saat bergumul, Sulai berhasil melepaskan diri dan berlari menyelamatkan diri hingga sampai ke rumah Wanto.
Oleh warga desa, Sulai langsung dibawa ke Puskesmas Kecamatan Mersam dengan mobil. Puskesmas hanya memberikan perawatan darurat dan pada hari itu juga Sulai dirujuk ke RSUD Hamba di Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Setelah merawat tujuh hari, pihak rumah sakit akhirnya merujuk Sulai ke RSUD Raden Mattaher, Provinsi Jambi, mulai 17 November.
Menurut Kristiawan, penyerangan terhadap Sulai tersebut merupakan kasus pertama. Beruang itu diperkirakan baru saja melahirkan sehingga agresif.
Di kawasan hutan Provinsi Jambi terdapat tiga sebaran besar anak suku dalam. Sebanyak 1.500 jiwa tinggal di Bukit Duabelas, 1.700 jiwa di kawasan sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera, dan 450 jiwa di selatan Bukit 30. Masing-masing sebaran besar tersebut terdiri atas kelompok kecil-kelompok kecil yang hidup menyebar. Setiap kelompok ada yang terdiri atas tiga keluarga sampai 20 keluarga.
Bahasa yang digunakan adalah Melayu Jambi. Sementara itu, pola hidup mereka umumnya masih berburu dan mengandalkan hasil hutan. Beruang, dalam hal ini, tidak pernah menjadi target buruan mereka.