Korban Serangan Beruang Dioperasi

Kompas.com - 02/12/2009, 03:05 WIB

JAMBI, KOMPAS - Setelah 21 hari menunggu, Sulai (25), orang rimba atau anak suku dalam yang menjadi korban serangan beruang di kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, akhirnya menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi, Selasa (1/12).

Operasi berlangsung selama lima jam, mulai pukul 09.00-14.00. Tim medis melibatkan dua dokter spesialis, yakni spesialis bedah saraf dan spesialis mata.

Menurut Kristiawan, Fasilitator Kesehatan Komunitas Konservasi Indonesia (KKKI) Warsi, yang mendampingi Sulai, Sulai mengalami luka parah akibat cakaran beruang. Mata kiri Sulai rusak dan tempurung kepalanya berlubang.

Dalam operasi tersebut, dokter pertama-tama menambal bagian yang berlubang dengan pelat dan screw berbahan titanium. Kemudian dilanjutkan dengan memperbaiki jaringan mata kiri Sulai yang dipastikan tidak akan bisa melihat lagi.

Biaya operasi ditanggung negara melalui program Jamkesmas. Namun, karena pelat dan screw tidak termasuk dalam daftar program, pasien harus membelinya sendiri. Harganya Rp 5 juta.

Untuk itu, KKKI Warsi mencarikan Sulai donatur. Gayung bersambut dari Bupati Batanghari Syahirsah yang akhirnya mengucurkan dana bantuan dari APBD.

Kawasan TN

Sulai adalah anak suku dalam dari kelompok Tumenggung Ngamal yang saat ini bertempat tinggal di kawasan Kejasung Kecil di Taman Nasional (TN) Bukit Duabelas. Ia diserang beruang pada 11 November di Serenggam, di kawasan TN.

Menurut Wanto (24), warga di Unit 1 Bukit Harapan RT 18, Kecamatan Mersam, yang menolong korban, Sulai diserang beruang dari belakang saat istirahat seusai berburu babi hutan. Setelah beberapa saat bergumul, Sulai berhasil melepaskan diri dan berlari menyelamatkan diri hingga sampai ke rumah Wanto.

Oleh warga desa, Sulai langsung dibawa ke Puskesmas Kecamatan Mersam dengan mobil. Puskesmas hanya memberikan perawatan darurat dan pada hari itu juga Sulai dirujuk ke RSUD Hamba di Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. Setelah merawat tujuh hari, pihak rumah sakit akhirnya merujuk Sulai ke RSUD Raden Mattaher, Provinsi Jambi, mulai 17 November.

Menurut Kristiawan, penyerangan terhadap Sulai tersebut merupakan kasus pertama. Beruang itu diperkirakan baru saja melahirkan sehingga agresif.

Di kawasan hutan Provinsi Jambi terdapat tiga sebaran besar anak suku dalam. Sebanyak 1.500 jiwa tinggal di Bukit Duabelas, 1.700 jiwa di kawasan sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera, dan 450 jiwa di selatan Bukit 30. Masing-masing sebaran besar tersebut terdiri atas kelompok kecil-kelompok kecil yang hidup menyebar. Setiap kelompok ada yang terdiri atas tiga keluarga sampai 20 keluarga.

Bahasa yang digunakan adalah Melayu Jambi. Sementara itu, pola hidup mereka umumnya masih berburu dan mengandalkan hasil hutan. Beruang, dalam hal ini, tidak pernah menjadi target buruan mereka. (LAS)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau