WTO Hanya Menang Semangat

Kompas.com - 04/12/2009, 03:08 WIB

Keinginan untuk menyelesaikan Putaran Doha pada tahun 2010 cukup kuat dan semakin kental, sebagaimana terlihat dalam Pertemuan Tingkat Menteri WTO Ke-7 di Geneva, Swiss, 30 November hingga 2 Desember. Seruan dan kesiapan tersebut lebih ditonjolkan oleh negara berkembang.

Apakah demikian kenyataannya? Tampaknya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) masih lebih senang ”bersilat lidah” dan mengutarakan hal-hal indah ketimbang berbuat nyata. Kesepakatan baru itu bertujuan mewujudkan lahirnya rezim baru perdagangan dunia, dengan harapan akses pasar bagi produk negara berkembang relatif lebih tinggi dari sebelumnya, saat memasuki pasar negara maju.

Berikut ini cuplikan wawancara dengan Direktur Jenderal WTO Pascal Lamy di sela-sela persidangan. Nuansa dan nada dari semua jawabannya juga sama, WTO hanya menang dalam semangat tetapi tidak ada kepastian soal terciptanya rezim baru perdagangan dunia.

Tanya: Optimisme tentang tercapainya kesepakatan Putaran Doha pada 2010 tampaknya semakin kental. Tetapi tentu masih ada ganjalan soal itu. Apakah ada rencana B jika Putaran Doha gagal disepakati pada tahun 2010?

Jawab: Saya tidak akan pernah menjawab pertanyaan yang dimulai dengan kata ”jika”. Hal yang saya dengar dari semua anggota adalah kesepakatan melakukan rencana A. Itu yang mereka inginkan dan katakan. Saya akan melakukan apa yang mereka inginkan.

Tidak ada satu pun yang saya dengar tidak mendukung rencana A, dan sama sekali tidak ada rencana B. Kami akan fokuskan energi pada rencana A dan berupaya keras mewujudkannya.

Pihak yang paling bersuara mengenai hal ini adalah negara berkembang. Negosiasi saatnya bergerak. Negara berkembang akan mendapat kepastian dan akses pasar serta cara melindungi pasarnya dari banjir impor. Sistem tersebut semakin penting karena akan ada bantuan teknis dan lain-lain bagi negara berkembang untuk meningkatkan kemampuan ekonomi.

T: Apakah AS turut menyuarakan pentingnya pencapaian kesepakatan Putaran Doha?

J: Ya, tentu saja. Mereka mengatakan juga ingin menyelesaikan Putaran Doha. Segalanya sudah berada di atas meja dan mereka tidak mengatakan ingin mengubah apa yang sudah ada. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Diskusi masih terus berlangsung di antara negara-negara besar anggota WTO. Tetapi jelas, tidak ada yang mengatakan mau mengubah hal yang telah dicapai.

T: Pada pidato pembukaan sidang, Anda menyatakan perdagangan internasional harus diikuti dengan kebijakan domestik. Dapatkah dielaborasi lagi?

J: Yang saya maksud adalah ada keuntungan besar dengan perdagangan yang terbuka. Namun, kesuksesan dan manfaat perdagangan internasional hanya dapat dirasakan jika ada dukungan berupa kebijakan domestik yang tepat guna mendukung perdagangan internasional.

Perdagangan internasional bukan merupakan hal yang tiba-tiba ada, tetapi harus diupayakan. Sebuah negara lebih baik membuka pasar. Akan tetapi, hal ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul secara ajaib. Untuk mencapainya diperlukan kemampuan untuk menyesuaikan diri pada persaingan internasional, termasuk pengembangan infrastruktur, transportasi, pelabuhan, pengetahuan, sistem pendidikan dan lainnya.

Poin dari saya adalah perlu ada kombinasi antara kebijakan domestik dan internasional. Ini bukan berarti bahwa kebijakan domestik sebuah negara berada di bawah WTO walaupun anggota harus menghormati aturan WTO, seperti penentuan tarif, pengembangan pelabuhan atau lainnya. Namun, upaya domestik dengan kelancaran perdagangan tidak dapat dipisahkan karena merupakan kesatuan.

Ada godaan untuk melakukan proteksionisme di sana-sini. Ini tidak bagus. Kalau Anda mulai melakukan proteksi, tetangga akan melakukan hal yang sama. Impor tetangga Anda adalah ekspor Anda. Dengan proteksi pada akhirnya setiap negara akan menginjak kaki sendiri.

Oleh sebab itu, dalam disiplin WTO ada instrumen pelacak proteksionisme, yang kadang dapat terlihat dalam manuver tarif, langkah pengamanan dan instrumen lain yang dapat digunakan dalam keadaan darurat. Hal itu dapat digunakan asalkan proporsional sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif dari tetangga.

 

T: GSTP merupakan kelompok 22 negara berkembang dari anggota Kelompok 77 (G-77) yang membuat kesepakatan penurunan tarif antaranggotanya sebanyak 20 persen dari tarif yang berlaku. Bagaimana dengan Global System of Trade Preferences Among Developing Countries (GSTP) yang akan disepakati pada September 2010?

J: GSTP… itu adalah langkah baik dari negara berkembang yang mendukung keterbukaan. Ini posisi yang koheren dengan WTO. Jika mereka melakukan itu di antara mereka sendiri, ini adalah pertanda baik. Mereka ingin memperlihatkan bahwa perdagangan Selatan-Selatan bisa ditingkatkan dan memberi banyak manfaat. Jadi, itu adalah berita yang baik. (JOE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau