Warga Terguncang, Ada yang Bunuh Diri

Kompas.com - 04/12/2009, 10:57 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Kebijakan drastis Korea Utara melakukan sanering atau pemotongan nilai mata uang won, dari 100 won menjadi 1 won, menyebabkan para pedagang di negara berhaluan kiri itu terguncang dan putus asa. Bahkan, saking paniknya, ada pasangan suami-istri nekat bunuh diri.

Terguncangnya para pedagang itu diungkap sejumlah aktivis di Pyongyang, Kamis (3/11). Laporan tentang warga yang bunuh diri merujuk pada berita Daily NK, sebuah media online yang fokus pada berbagai masalah Korea Utara, tetapi media ini berbasis di Seoul, Korea Selatan.

Sepasang suami-istri yang bunuh diri adalah pedagang dan sama-sama berusia 60 tahun, warga Provinsi Hamgyong Utara. Mereka nekat bunuh diri karena stres setelah mendengar pemotongan nilai mata uang won itu. Mereka terguncang, stres, dan akhirnya nekat bunuh diri.

Otoritas Korut memberi tahu warga dan kedutaan asing pada hari Minggu lalu bahwa negara telah menurunkan nilai mata uang won, dari 100 won menjadi 1 won, yang berlaku sejak Senin. Semua pihak diberi kesempatan untuk menukarkan uang dan surat berharga sampai Minggu ini.

Kantor berita Yonhap di Seoul, Korea Selatan, mengutip pejabat perdagangan Korut di Cina, menyebutkan, kepanikan warga terasa di mana-mana. Mereka berbondong-bondong menyerbu pasar-pasar gelap untuk menukarkan won dengan dollar AS dan yuan China. Nilai mata uang dollar AS dan yuan melonjak tajam.

Semua toko, usaha sauna, tukang cukur, dan restoran berhenti beroperasi. Lee Seung- yong, petugas Good Friends, sebuah kelompok sipil berbasis di Seoul yang biasa mengirim makanan dan bantuan lain ke Korut, mengatakan, ”Kami mendengar bisnis dan aktivitas pasar di sana tutup.” Dia melanjutkan, ”Orang-orang tidak mempunyai uang lagi untuk mengembangkan usahanya.”

Good Friends juga melaporkan, otoritas berwenang Korut telah mengeluarkan ancaman keras. Otoritas akan menjatuhkan ”hukuman tanpa ampun” (merciless punishment) kepada siapa saja yang melanggar aturan penukaran uang. Pemerintah memberi batasan warga boleh menukarkan uangnya paling banyak hanya 100.000 won per orang. Akibat pemotongan itu, 100.000 won menjadi 10.000 won.

Jika ada warga yang memiliki uang lebih dari 100.000 won, kelebihannya itu hanya diperbolehkan disimpang di bank-bank milik negara. Tidak boleh disimpan di bank asing atau bank swasta. Namun, tidak ada penjelasan rinci apakah warga siap membuka rekening baru di bank pemerintah. Media massa di Pyongyang dan Seoul melaporkan, warga yang tidak mematuhi ketentuan akan dikenai ”hukuman tanpa ampun”, tetapi Tidak dijelaskan apa bentuk konkret hukuman itu.

Pemotongan nilai won yang begitu tajam—paling drastis dalam 50 tahun ini—dilakukan untuk menekan laju inflasi dan mengendalikan aktivitas pasar gelap. Para analis mengatakan, karena tidak mampu memberi makan 24 juta penduduknya, rezim yang berkuasa pada mulanya menghidupkan pasar, termasuk pasar-pasar untuk menampung beragam produk usaha tani.

Pasar mungkin saja telah mendorong perdagangan, tetapi pasar juga dilarang memperdagangkan barang-barang impor seperti film dan sabun dari musuh bebuyutannya Korsel. Sejak perang Korea tahun 1950-1953, negara tetangganya, yakni Korsel, dicap sebagai ancaman bagi kekuasaan totalitarian Kim Jong Il. Pasar grosir terbesar Korut di Pyongyang ditutup sejak medio Juni lalu.

Analis mengatakan, penurunan nilai mata uang yang drastis itu merupakan bentuk dari peran pemerintah untuk mengambil alih pengendalian ekonomi nasional dari pedagang. ”Langkah ini diambil untuk membasmi para pemain di sektor swasta dan memperkuat kontrol pemerintah terhadap perekonomian,” kata Jeong Kwang-min, peneliti Institut Strategi Keamanan Nasional di Seoul.

Menurut dia, langkah itu sebenarnya mempunyai tujuan lebih luas lagi, yakni menyiapkan jalan bagi Kim Jong Il untuk menyerahkan kekuasaan kepada anak bungsunya, Kim Jong Un. Juga untuk memastikan, sang ayah mewariskan ekonomi yang stabil bagi anaknya itu. Kim menderita stroke sejak Agustus 2008.

Korut mulai mengalami krisis ekonomi sejak runtuhnya Uni Soviet awal tahun 1990-an, bencana alam banjir, dan kasus salah urus ekonomi pada medio 1990-an. Korut hanya mengandalkan bantuan pangan dari dunia luar. Namun, bantuan itu baru diberikan dengan imbalan Korut harus meninggalkan program nuklirnya.

Banyak bantuan ditangguhkan dan sanksi internasional diperketat karena Pyongyang tetap menolak peringatan internasional atas program nuklirnya. Pemangkasan nilai won terjadi hanya beberapa hari menjelang kedatangan utusan AS ke Pyongyang untuk perundingan perlucutan senjata nuklir. (AP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau