Harga Beras Naik, Konsumen Mengeluh

Kompas.com - 07/12/2009, 21:55 WIB

TEGAL, KOMPAS.com - Harga beras dan sejumlah bahan pangan lainnya, seperti gula pasir dan minyak goreng naik. Bahkan, kenaikan harga beras eceran mencapai sekitar Rp 500 per kilogram. Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah konsumen, termasuk pedagang makanan.

Mahrudi (32), pedagang beras di Pasar Induk Beras Martoloyo, Kota Tegal, Senin (7/12) mengatakan, harga beras C4 kualitas standar yang sebelumnya Rp 4.700 per kilogram, saat ini mencapai Rp 4.900 per kilogram. Harga tersebut merupakan harga pembelian untuk partai besar.

Menurut dia, kenaikan harga beras diperkirakan karena sedikitnya panen. "Saat ini, panen di wilayah pantura hanya berlangsung Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes dan Kecamatan Randudongkal di Kabupaten Pemalang. Luar daerah, seperti Demak juga belum panen," ujarnya.

Pasokan beras juga sulit diperoleh. Sebelumnya, Mahrudi mengaku bisa mendapatkan pasokan sekitar tujuh hingga delapan ton beras per hari. Namun saat ini, pasokan sebanyak itu hanya diperoleh dalam sepekan sekali.

Hingga saat ini, permintaan beras dari masyarakat masih stabil. Mahrudi memperkirakan, harga beras masih akan naik hingga akhir Januari, atau memasuki musim panen pertama.

Tuwiningsih (60), pedagang sembako di Pasar Trayeman, Tegal mengatakan, harga eceran beras C4 kualitas pertama naik dari Rp 4.900 menjadi sekitar Rp 5.400 per kilogram. Harga beras kemasan dari pabrik juga naik sekitar Rp 1.000 per lima kilogram, atau Rp 200 per kilogram.

Selain beras, harga sejumlah bahan pangan lainnya juga naik. Menurut Tuwiningsih, dalam sepekan terakhir, harga gula pasir naik dari Rp 8.600 menjadi Rp 9.400 per kilogram. Harga minyak goreng curah juga naik sekitar Rp 200 per kilogram, sedangkan harga tepung tapioka naik dari Rp 95.000 menjadi Rp 120.000 per zak isi 25 kilogram.

Ia mengaku tidak mengetahui penyebab kenaikan harga sejumlah bahan pangan tersebut. Hingga saat ini, permintaan bahan pangan dari masyarakat juga relatif stabil. "Ini saya juga bingung," kata dia.

Kenaikan harga bahan pangan tersebut dikeluhkan sejumlah konsumen, termasuk pedagang makanan. Susanti (33), pengelola Warung Tuti di Jalan Tentara Pelajar, Kota Tegal mengatakan, kenaikan harga bahan pangan menyulitkan pedagang makanan.

Pada satu sisi, ia harus menanggung kenaikan biaya produksi. Namun di sisi lain, ia tidak bisa menaikkan harga jual makanan, karena takut kehilangan pelanggan. "Pedagang harus memutar otak agar tidak rugi," tambahnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau