JAKARTA, KOMPAS.com - Korban penembakan Ogan Ilir di lahan sengketa warga Desa Rengas, Ogan Ilir dengan PT Perkebunan Nusantara VII, Kamis (10/12/09), mendatangi kantor Komnas HAM, Jakarta untuk meminta masalah mereka segera dituntaskan. Korban yang datang didampingi oleh LBH Palembang, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), dan Walhi Sumatera Selatan.
Mereka menyampaikan kronologis kejadian yang sebenarnya di depan komisioner Komnas HAM Syafruddin Ngulma. Awalnya kejadian penembakan yang berlangsung setelah menunaikan salat Jumat tersebut terjadi secara tiba-tiba saat warga yang berjumlah ratusan itu hendak mendatangi PT PN VII untuk meminta kejelasan soal pembongkaran pondok mereka.
"Warga mau mengecek atas terbongkarnya pondok itu, tapi belum sampai sudah dihadang dengan tembak-tembakan," kata Gunadi, salah satu korban yang dada kirinya tertembus peluru dalam kasus tersebut.
Warga Ogan Ilir juga menegaskan jumlah korban yang jatuh akibat insiden tersebut. "Setelah salat Jumat terjadi penembakan oleh satgas Brimob, korban ada 12 orang yang dibawa ke rumah sakit karena luka parah, sedangkan 8 orang lainnya tidak mengalami luka parah," ujar perwakilan KPA, DD Shineba ketika menyampaikan keluhan korban, di Kantor Komnas HAM, Jakarta.
Mereka juga menyampaikan ketidakbenaran berita yang beredar selama ini bahwa penembakan kepada mereka itu terjadi setelah warga membakar fasilitas PT PN VII. "Terjadi pembakaran itu ya setelah penembakan itu," ujar Firmanto, korban penyanderaan dan pemukulan oleh Satgas dan Brimob di Ogan Ilir.
Warga sangat menyayangkan tidak adanya nego atau peringatan kepada mereka saat terjadi insiden penembakan tersebut. Bentrok tak terhindarkan tersebut sebenarnya tidak mereka inginkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang